Pakat Masih Diminati meskipun Penjualanan Menurun

  • 18 Mar 2026 07:18 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID - Medan, Pakat merupakan lalapan tradisi khas mandailing berbahan pucuk rotan muda yang tetap menjadi salah satu makanan yang diburu masyarakat khususnya suku Mandailing dan Batak Angkola saat bulan Ramadan. Namun, di tengah tingginya minat tersebut, sejumlah pedagang mengaku penjualan tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Di Jalan Panglima Denai, tepatnya di bawah jembatan tol, seorang pedagang pakat terlihat tetap melayani pembeli yang datang menjelang waktu berbuka puasa. Proses pembakaran pucuk rotan yang dilakukan secara tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Pakat merupakan makanan khas masyarakat Batak yang diolah dengan cara dibakar, kemudian dikupas untuk diambil bagian dalamnya. Lalapan ini memiliki cita rasa khas yang cenderung pahit dan biasanya dinikmati dengan berbagai jenis sambal.

Salah seorang pedagang, Hasanuddin Siregar, mengatakan bahwa minat pembeli memang meningkat saat Ramadan, namun tidak sebesar tahun lalu.

“Yang banyak peminatnya pas bulan Ramadan. Kalau hari biasa ada, tapi tidak sebanyak bulan Ramadan. Tapi tahun ini berkurang dari tahun yang lalu,” ujarnya kepada RRI pada Selasa 17 Maret 2026.

Ia menduga penurunan tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.

“Mungkin masalah ekonomi global ini, makanya penjualan lebih banyak tahun kemarin,” katanya.

Ia menjual pakat dengan harga Rp10.000 untuk 3 batang, tidak berbeda dengan harganya di tahun lalu. Ia juga menjelaskan bahwa pakat biasanya dinikmati sesuai selera, dengan tambahan sambal atau lainnya

“Enaknya pakat ini tergantung selera. Bisa pakai sambal asam, sambal anyang, atau sambal terasi,” tambahnya.

Setiap hari selama Ramadan, ia mulai berjualan di Jalan Panglima Denai, tepatnya di bawah jembatan tol sejak pukul 11.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Meski penjualan mengalami penurunan, pakat tetap menjadi salah satu kuliner tradisional yang diminati masyarakat Suku Mandailing dan Batak Angkola saat Ramadan. Selain menjadi menu pelengkap berbuka, makanan ini juga mencerminkan kekayaan kuliner lokal yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....