Pembuatan Kue Lebaran Menurun, Tren Pembelian Meningkat

  • 18 Mar 2026 06:56 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Menjelang Hari Raya Idulfitri, kue kering kembali menjadi salah satu hidangan yang paling diburu masyarakat. Namun, di balik tradisi yang tetap bertahan, cara masyarakat dalam menyiapkannya kini mengalami perubahan.

Jika beberapa tahun lalu suasana dapur rumah tangga identik dengan aroma kue Lebaran yang dipanggang sendiri, kini pemandangan tersebut mulai beralih ke ramainya warung dan toko yang menjual kue siap saji. Aktivitas membuat kue di rumah perlahan tergantikan oleh kebiasaan membeli.

Berdasarkan pantauan di sejumlah lokasi penjualan, peningkatan pembelian kue kering sudah terlihat sejak awal Ramadan dan terus mengalami lonjakan menjelang hari raya. Warga datang silih berganti sejak pagi hingga malam hari untuk mendapatkan berbagai jenis kue dan keripik.

Beragam pilihan kue tersedia, mulai dari nastar, kue bangkit, hingga kue cokelat. Selain itu, aneka keripik dengan berbagai varian rasa juga menjadi pelengkap hidangan yang banyak diminati saat Lebaran.

Perubahan ini tidak lepas dari dinamika kehidupan masyarakat. Kesibukan aktivitas sehari-hari membuat banyak orang memilih cara yang lebih praktis dalam mempersiapkan hidangan. Membeli kue kering dinilai lebih efisien dibandingkan harus membuat sendiri yang membutuhkan waktu, tenaga, serta keterampilan khusus.

Salah seorang warga, Adly yang ditemui saat berbelanja di salah satu toko oleh-oleh di kawasan Jl Pelajar Timur gang Kelapa Kota Medan ini mengaku kini lebih memilih membeli kue dibanding membuat sendiri di rumah.

“Kalau dulu kami biasa buat kue sendiri di rumah, sekarang lebih sering beli. Selain lebih praktis, pilihannya juga banyak dan rasanya sudah terjamin,” ujarnya saat diwawancarai RRI pada Selasa sore 17 Maret 2026.

Ia juga menambahkan bahwa membeli kue kering menjadi solusi di tengah kesibukan menjelang Lebaran.

“Menjelang hari raya biasanya waktu sudah sangat terbatas, jadi membeli kue jadi pilihan yang lebih mudah,” katanya.

Meski demikian, makna dari tradisi tersebut tidak luntur. Kue kering tetap menjadi simbol kehangatan dan bentuk penghormatan kepada tamu yang datang bersilaturahmi. Hidangan yang tersaji di ruang tamu tetap mencerminkan semangat berbagi dan kebersamaan saat Idulfitri.

Di sisi lain, perubahan kebiasaan ini juga membawa dampak positif bagi pelaku usaha. Momentum Ramadan dan Lebaran dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Peralihan dari membuat menjadi membeli ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Meskipun cara penyajiannya berubah, esensi kebersamaan dan nilai silaturahmi dalam perayaan Idulfitri tetap terjaga.

Seiring semakin dekatnya Hari Raya, permintaan kue kering dan keripik diperkirakan akan terus meningkat, menandai semakin kuatnya tradisi yang terus hidup, meski cara penyajiannya kini berbeda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....