Usaha Berbasis Tradisi: Bubur Pedas Melayu Deli Kini dan Nanti

  • 12 Mar 2026 10:14 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID,Medan - Di tengah derasnya arus modernisasi kuliner, makanan tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Salah satu contohnya adalah Bubur Pedas Melayu Deli, hidangan khas dari budaya Melayu Deli di wilayah Medan dan sekitarnya. Bubur yang kaya rempah ini tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur.Saat ini, bubur pedas semakin dikenal luas, tidak hanya oleh masyarakat lokal tetapi juga wisatawan yang datang ke Sumatera Utara. Banyak pelaku usaha kuliner mulai melihat potensi ekonomi dari makanan tradisional ini. Beberapa warung dan usaha rumahan menjadikan bubur pedas sebagai menu utama, terutama pada bulan Ramadan atau acara adat Melayu.Salah serang pelaku usaha Bubur pedas Herita,SE mengatakan pentingnya melestarikan tradisi kuliner Melayu Deli dengan beragam cara salah satunya menjadikannya sebagai usaha."Sejak tahun 2018 saya sudah jual bubur pedas yang siap saji di istana maimoon waktu itu diajak dato'alm Ardiansyah sementar yang instan sejak tahun 2016 sudah jual yang instan",ucapnya kepada RRI.CO.ID pada Rabu ( 11/03/2026).

Ciri khas bubur pedas terletak pada perpaduan berbagai rempah, sayuran, dan beras yang disangrai lalu ditumbuk halus. Proses memasaknya yang panjang menciptakan cita rasa gurih, pedas, dan aromatik. Bagi masyarakat Melayu Deli, bubur ini juga memiliki nilai kebersamaan karena biasanya dimasak dalam jumlah besar dan dinikmati bersama.

Selain dijual secara langsung di warung tradisional, kini bubur pedas juga mulai dipasarkan melalui media sosial dan layanan pesan antar. Inovasi kemasan dan promosi digital menjadi strategi baru agar kuliner tradisional ini tetap relevan dengan gaya hidup masyarakat modern.

Usaha bubur pedas memiliki beberapa keunggulan. Bahan bakunya relatif mudah didapat di pasar lokal, sementara resepnya diwariskan secara turun-temurun. Hal ini membuat usaha tersebut memiliki nilai autentik yang sulit ditiru oleh kuliner modern.Para pelaku usaha juga mulai melakukan berbagai inovasi untuk memasarkan produknya.

" Sekarang ini ada kemasan siap saji dengan penambahan topping seperti ikan teri atau udang, cumi, kepiting dan lainnya.Ketahanan 1 tahun di suhu ruang,penyajiannya sendiri bukan diseduh utk dikonsumsi,tapi masak menggunakan penanak nasi sama seperti bubur pada umumnya,untuk yang instan 1 porsi 300 gram ,utk 4 orang

hargaya 45 ribu utk instan,400 ml yg siap saji 15 ribu lengkap dengan Anyang untuk yang instan cara penyajiannya dimasak di penanak nasi terlebih dahulu",ungkapnya.

Promosi melalui media sosial dan festival kuliner jua kerap dilakukan seperti di sosial media ,ikut bazar ,Facebook namun Inovasi tersebut tidak menghilangkan keaslian rasa, tetapi justru memperluas pasar, terutama bagi generasi muda yang mulai kembali tertarik pada makanan tradisional.

Ke depan, bubur pedas berpotensi menjadi salah satu ikon kuliner daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Dukungan dari komunitas budaya, pemerintah daerah, serta pelaku usaha sangat penting untuk menjaga keberlanjutan makanan tradisional ini.

"Harapan saya bubur pedas jangan sampai ditinggalkan oleh sukunya sendiri,majulah sampai ke masa yg akan datang",ucapnya.

Jika dikelola dengan baik, usaha bubur pedas tidak hanya meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi juga melestarikan warisan budaya Melayu Deli. Dengan memadukan tradisi dan inovasi, bubur pedas diyakini akan terus hadir dari generasi ke generasi—tetap menjadi simbol kebersamaan dan kekayaan kuliner Nusantara.

Kini, bubur pedas bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga peluang usaha berbasis budaya yang menjanjikan untuk masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....