Akses KUR dan Bantuan Minim, Pelaku UMKM Bertahan dengan Modal Sendiri
- 14 Feb 2026 10:57 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pelaku usaha mikro di Kota Medan, Arie mengaku belum pernah mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena kekhawatiran terhadap kondisi penjualan yang cenderung menurun. Situasi ini membuatnya memilih bertahan dengan modal sendiri dibanding mengambil risiko pinjaman.
“Belum ada ajakan atau pengajuan KUR. Penjualan sedang mengalami penurunan, jadi takut nanti mengajukan, tidak bisa bayar," ujar Arie, Sabtu 14 Februari 2026.
Ia menyebut telah menjalankan usaha kue sejak 2008 dengan skala kecil, dan mengandalkan perputaran modal harian. Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan utama yang terus dihadapi dalam menjaga keberlangsungan usaha.
“Kesulitannya barang bakunya mahal, tapi harga jualnya enggak bisa dinaikkan. Jadi mengatasinya dengan mengurangi ukuran, biar masih bisa masuk ke modal,” kata Arie.
Menurut Arie, kenaikan harga bahan baku terjadi dalam waktu singkat dan terus berulang. Meski demikian, ia masih berusaha mempertahankan usaha meskipun keuntungan yang diperoleh sangat terbatas.
“Dibanding bulan lalu saja, harga bahan sudah naik. Cuma ya masih dapat keuntunga walaupun sedikit," ucap Arie.
Dalam strategi penjualan, Ari mengaku kini mengandalkan sistem pre-order (PO) untuk menghindari kerugian akibat bahan yang tidak terjual. Penjualan dilakukan secara offline dan online dengan penyesuaian kondisi pasar.
“Saya pakai sistem PO sekarang. Kalau enggak, nanti dibuat tapi enggak ada yang beli, rugi di bahan," ujarnya.
Ia menilai penjualan bersifat fluktuatif, dipengaruhi oleh momentum tertentu seperti masa libur sekolah. Pada periode tersebut, penjualan cenderung mengalami penurunan.
“Kalau pas anak sekolah libur, itu agak turun. Kalau hari-hari biasa ya lumayan,” kata Arie.
Arie juga mengaku tidak pernah menerima informasi terkait bantuan pemerintah, bazar, maupun program pembinaan UMKM. Menurutnya, syarat keanggotaan kelompok menjadi kendala utama.
“Saya tidak pernah mendapat info bantuan atau bazar. Menurut info yang saya dapat harus masuk kelompok,” ucapnya.
Ia mengungkapkan kebingungannya terkait keberadaan dan perbedaan lembaga UKM di Medan, termasuk mekanisme pendaftaran kelompok. Ari berharap bantuan pemerintah ke depan dapat menjangkau pelaku UMKM mandiri seperti dirinya.
“Yang bikin bingung, UKM di Medan itu sebenarnya ada berapa. Kalau mau masuk kelompok, daftarnya di mana, saya enggak tahu. Harapannya bantuan itu bisa seperti waktu COVID dulu, semua pelaku UMKM dapat, termasuk yang mandiri,” ujar Arie.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....