Gunung Berapi Erupsi Bersamaan, Waspadai Potensi Lonjakan Inflasi
- 07 Sep 2026 19:39 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mewaspadai potensi lonjakan inflasi akibat erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia yang terjadi secara bersamaan pada awal September. Aktivitas vulkanik tersebut dinilai berpotensi mengganggu produksi pertanian dan distribusi barang antardaerah sehingga memicu disparitas harga yang semakin lebar.
“Pada awal September ini telah terjadi erupsi gunung berapi di tanah air secara bersamaan. Beberapa gunung berapi yang bererupsi di antaranya Gunung Sinabung, Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewatolok, Gunung Ibu, Gunung Lewotobi Laki-Laki, dan Gunung Merapi. Aktivitas vulkanik di banyak gunung berapi ini berpeluang memicu terjadinya disparitas harga yang tajam dan memicu kenaikan laju tekanan inflasi,” ujar Gunawan, Senin 7 September 2026.
Menurutnya, aktivitas vulkanik tersebut berpotensi mengganggu jalur transportasi, termasuk transportasi udara di wilayah Jakarta. Selain itu, erupsi juga berpeluang menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami gagal panen.
“Gangguan pada jalur distribusi akan memicu disparitas harga antara daerah yang cukup tajam dan bisa memicu inflasi di daerah yang bergantung produksi dari wilayah lainnya,” katanya.
Ia mencontohkan kondisi harga cabai merah di Sumatera Utara yang berdasarkan pemantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Kota Medan saat ini mencapai sekitar 60 ribu rupiah per kilogram di Pasar Petisah.
Padahal, pasokan cabai merah di Sumatera Utara juga banyak didatangkan dari daerah lain, seperti Jawa dan Jambi. Berdasarkan data PIHPS, harga cabai merah di Kota Jambi rata-rata berada di kisaran 46 ribu rupiah per kilogram.
Sementara itu, di Jawa Barat, khususnya Cirebon, harga cabai merah tercatat berada di kisaran 35 ribu rupiah per kilogram berdasarkan pemantauan PIHPS.
Gunawan menilai semakin lebar perbedaan harga antardaerah, semakin besar pula kebutuhan terhadap berbagai jalur transportasi untuk mendistribusikan komoditas. Namun, ketika bencana alam seperti erupsi gunung berapi terjadi, pilihan jalur distribusi menjadi semakin terbatas.
“Semakin lebar perbedaan harga antar daerah, maka semua jalur transportasi memungkinkan untuk mendistribusikan barang, termasuk lewat jalur udara. Namun disaat terjadi bencana alam seperti erupsi gunung berapi saat ini, opsi jalur transportasi pilihannya kian sedikit,” katanya.
Ia juga mengingatkan potensi gangguan pada jalur transportasi laut dan darat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sejumlah daerah memiliki ketergantungan terhadap pasokan pangan dari wilayah lain.
Pulau Jawa, misalnya, masih menjadi wilayah produksi dominan untuk bawang merah dan beras yang kemudian didistribusikan ke berbagai daerah, termasuk Sumatera. Sebaliknya, Sumatera Utara memiliki sejumlah produk unggulan seperti wortel, kentang, dan kol yang juga banyak dibutuhkan oleh wilayah lain di Pulau Jawa.
Selain itu, Sulawesi memiliki basis produksi beras yang memasok kebutuhan sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Utara. Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat juga menjadi daerah yang memasok kebutuhan daging sapi ke berbagai wilayah lainnya.
Gunawan menambahkan, Bali juga masih menjadi salah satu wilayah yang dominan mendistribusikan kebutuhan daging babi ke daerah lain, seperti Kalimantan.
Menurutnya, erupsi gunung berapi berpeluang menciptakan gejolak harga di masyarakat karena dampaknya dapat menurunkan jumlah pasokan sekaligus mengganggu distribusi. Dalam kondisi bencana, upaya mitigasi pemerintah juga menghadapi tantangan untuk menekan harga kembali ke tingkat sebelum erupsi.
“Mitigasi kebijakan yang diambil saat masa bencana saat ini sulit untuk meredam gejolak harga. Saya melihat upaya yang dilakukan tidak akan maksimal dalam menekan harga ke angka sebelum erupsi, atau di satu sisi membuat pemerintah tidak mampu menyelamatkan tekanan harga murah di wilayah tertentu,” ucap Gunawan.
Ia menyarankan pemerintah menyiapkan sumber alternatif distribusi serta memastikan ketersediaan anggaran yang memadai untuk menjaga stabilisasi pasokan dan melakukan intervensi harga.
Gunawan menilai tantangan pengendalian harga akan semakin berat apabila aktivitas erupsi gunung berapi terus memburuk. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi karena gangguan tidak hanya terjadi pada produksi, tetapi juga pada distribusi komoditas pangan antardaerah.
“Mitigasi kebijakan yang bisa diambil adalah menyediakan sumber alternatif distribusi, serta memastikan ketersediaan anggaran yang cukup saat menjaga stabilisasi pasokan dan intervensi harga,” katanya.
Ia menegaskan, pengendalian inflasi akan semakin sulit jika aktivitas vulkanik terus meningkat dan gangguan terhadap produksi maupun jalur distribusi berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....