Penjualan Ritel Minus Bukti Daya Beli Menurun, IHSG dan Rupiah Tertekan

  • 11 Jun 2026 23:22 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan kamis, 11 Juni 2026 setelah bergerak cukup fluktuatif sepanjang sesi. Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.010 sekaligus menjadi posisi tertinggi perdagangan hari ini. Namun, IHSG juga sempat terpuruk hingga level 5.784 sebelum akhirnya ditutup melemah 0,28 persen di level 5.886,032.

Menurut Gunawan, pelemahan IHSG terjadi setelah indeks tidak mampu mempertahankan penguatan dan akhirnya terseret oleh sentimen negatif yang terjadi di mayoritas bursa saham Asia. Sejumlah emiten seperti BBRI, BMRI, ANTM, BRPT, hingga TINS turut memberikan kontribusi negatif terhadap pergerakan indeks.

"IHSG pada akhirnya terseret arus pelemahan mayoritas bursa saham di Asia, setelah sempat berupaya melawan tekanan. Upaya IHSG akhirnya juga harus kandas, seiring dengan melemahnya kinerja mata uang rupiah," kata Gunawan.

Tekanan juga terjadi pada nilai tukar rupiah. Pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah di level Rp17.975 per dolar Amerika Serikat. Bahkan selama sesi perdagangan berlangsung, Rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp18 ribu per dolar AS.

Gunawan menjelaskan, pelemahan IHSG dan rupiah sejalan dengan memburuknya data penjualan ritel nasional pada April 2026. Secara tahunan, penjualan ritel Indonesia tercatat mengalami kontraksi sebesar 3,7 persen. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan.

"Secara tahunan data penjualan ritel tanah air mengalami kontraksi dengan membukukan penurunan sebesar 3,7 persen. Pertumbuhan negatif pada penjualan ritel tersebut menjadi bukti bahwa daya beli masyarakat tengah mengalami penurunan," ujarnya.

Sementara itu, harga emas dunia bergerak relatif stabil di kisaran 4.090 dolar Amerika Serikat per ons troy atau setara sekitar Rp2,37 juta per gram. Harga emas tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan sesi perdagangan pagi, meskipun sempat diperdagangkan di atas level 4.100 dolar AS per ons troy.

Gunawan menambahkan, pergerakan harga emas masih cenderung mencari arah di tengah berbagai sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut membuat harga emas masih berpotensi mengalami fluktuasi dalam jangka pendek.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....