Pemotongan Sapi Kurban Melambat, Sinyal Warga Mulai Rem Belanja

  • 09 Jun 2026 18:15 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai melambatnya pertumbuhan pemotongan sapi kurban pada Iduladha 2026 menjadi salah satu indikasi bahwa masyarakat mulai menahan pengeluaran di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung.

Berdasarkan data David Yasin Consulting yang dihimpun dari 513 masjid dan musala di Kota Medan, serta Kabupaten Deli Serdang, jumlah pemotongan sapi kurban pada tahun ini masih mengalami kenaikan sebesar 2,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan belasan persen yang tercatat pada 2025.

"Meski jumlah sapi yang dipotong masih bertambah, pertumbuhannya jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Ini menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang mengalami tekanan," kata Gunawan, Senin, 8 Juni 2026.

Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan peternak dan pedagang mengeluhkan penjualan sapi kurban yang tidak seramai tahun sebelumnya.

Faktor pertama adalah banyaknya masyarakat yang telah merencanakan kurban sejak tahun lalu melalui sistem arisan atau pengumpulan dana bersama. Dengan pola tersebut, pembelian sapi dilakukan jauh hari, sehingga jumlah kebutuhan hewan kurban sudah dapat diperkirakan oleh peternak.

"Model arisan membuat sebagian besar transaksi sudah terjadi lebih awal, dan memberikan kepastian jumlah sapi yang harus disediakan oleh peternak," ujarnya.

Faktor kedua, lanjut Gunawan, adalah rendahnya serapan terhadap sapi yang dijual di luar skema pemesanan atau inden. Kondisi ini membuat sejumlah pedagang dan peternak merasakan penurunan minat beli dibandingkan periode sebelumnya.

Menurutnya, keluhan paling banyak muncul dari peternak yang berharap penjualan tahun ini dapat meningkat seperti yang terjadi pada Iduladha tahun lalu. Selain itu, kenaikan harga sapi bakalan impor juga turut memengaruhi keuntungan pedagang.

Gunawan menyebut harga daging sapi saat ini telah berada di kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Harga tersebut naik dibandingkan tahun lalu yang masih berkisar Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram.

"Kenaikan biaya pengadaan sapi membuat ruang keuntungan pedagang menjadi lebih sempit. Sementara permintaan tidak tumbuh sekuat tahun sebelumnya," katanya.

Secara keseluruhan, Gunawan menilai kondisi tersebut menunjukkan masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Ia menduga pembelian sapi kurban yang dilakukan secara individu di luar skema arisan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

"Ini menjadi gambaran bahwa konsumsi masyarakat sedang mengalami perlambatan. Padahal Iduladha biasanya selalu mendorong antusiasme masyarakat untuk berkurban, terlepas dari latar belakang ekonomi mereka," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....