OJK Catat Transaksi Kripto 2025 Capai Rp482 Triliun

  • 11 Mei 2026 19:01 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan, Adi Budiarso, menyebut perkembangan aset kripto Indonesia tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut terlihat dari peningkatan jumlah pengguna, nilai transaksi dan aset kripto yang diperdagangkan di Indonesia.

Hal itu disampaikan Adi dalam kuliah umum Digital Financial Literacy di Universitas Negeri Sebelas Maret, Senin 11 Mei 2026. Kegiatan tersebut membahas perkembangan kripto, tokenisasi, perencanaan keuangan dan penguatan literasi keuangan digital masyarakat.

Adi mengatakan jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia hingga Februari 2026 telah mencapai lebih dari 21 juta pengguna. Sepanjang tahun 2025, nilai transaksi perdagangan aset kripto nasional tercatat mencapai Rp482,23 triliun.

Selain itu, jumlah aset kripto yang diperdagangkan di Indonesia meningkat dari sekitar 501 aset pada tahun 2023. Pada tahun 2026, jumlah aset kripto yang diperdagangkan telah mencapai lebih dari 1.464 aset.

“Pertumbuhan industri tersebut turut tercermin dari penerimaan pajak aset kripto yang pada tahun 2025 mencapai Rp796,73 miliar,” kata Adi. Ia juga menyebut saat ini terdapat 25 Pedagang Aset Keuangan Digital yang legal dan berizin di Indonesia.

Menurut Adi, industri tersebut kini didukung ekosistem bursa, kliring, kustodian hingga perbankan dan penyedia jasa pembayaran nasional. OJK terus memperkuat pengawasan dan literasi agar pertumbuhan industri berjalan sehat, aman dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan sama, Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret, Hartono, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Digital Financial Literacy tersebut. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting membentuk generasi muda yang adaptif dan memiliki literasi keuangan kuat.

“Kolaborasi ini menjadi bukti nyata sinergi antara regulator dan perguruan tinggi dalam membangun generasi muda,” ujar Hartono. Ia mengingatkan banyak generasi muda menjadi korban penipuan investasi digital akibat rendahnya pemahaman dan literasi keuangan.

Kegiatan Digital Financial Literacy diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan daring dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. OJK berharap kolaborasi bersama perguruan tinggi dan industri terus memperkuat literasi keuangan digital masyarakat Indonesia.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....