Harga Emas Naik, IHSG Dibuka Menguat di Awal Perdagangan

  • 11 Mar 2026 09:51 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, mengatakan harga emas dunia pada Rabu, 11 Maret 2026 kembali menguat. Penguatan terjadi di tengah meredanya kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.

Ia menyebut harga emas dunia saat ini diperdagangkan di kisaran 5.210 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,83 juta per gram. Kenaikan harga emas terjadi seiring melemahnya harga minyak mentah dunia yang saat ini berada di kisaran 84 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat mendekati level 120 dolar AS per barel pada awal pekan.

Menurut Gunawan, pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan masih berada di atas target bank sentral. Meski demikian, tekanan inflasi tersebut diproyeksikan tidak akan terlalu menyita perhatian pasar, karena fokus investor saat ini lebih tertuju pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Pelaku pasar saat ini lebih mencermati perkembangan perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang masih berlangsung. Ketidakpastian geopolitik tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati,” ucapnya.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan tercatat menguat ke level 7.484. Sejumlah bursa saham di kawasan Asia juga diperdagangkan di zona hijau pada sesi perdagangan pagi.

Gunawan menilai pergerakan IHSG berpotensi mengikuti pola pergerakan bursa saham Asia secara umum. Namun demikian, pelaku pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap potensi tekanan pasar yang dapat muncul sewaktu-waktu di tengah konflik yang masih berlangsung.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih relatif stabil di kisaran Rp16.855 per dolar AS. Meski demikian, rupiah cenderung bergerak melemah seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Pidato Presiden Amerika Serikat sebelumnya sempat memberikan sinyal meredanya konflik. Namun pernyataan dari pihak Iran justru menegaskan bahwa mereka yang akan menentukan kapan perang tersebut berakhir,” ujar Gunawan.

Ia menambahkan, sikap Amerika Serikat yang kembali menunjukkan nada agresif dalam merespons konflik membuat pasar keuangan global menjadi lebih bergejolak. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah dinamika geopolitik yang berkembang.

Rekomendasi Berita