IHSG Terpuruk Sangat Dalam, Rupiah dan Emas Parkir di Zona Hijau
- 04 Mar 2026 17:43 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai tekanan besar yang terjadi di pasar keuangan domestik saat ini tidak terlepas dari akumulasi sentimen negatif global, akibat eskalasi konflik geopolitik yang masih berlangsung.
“IHSG pada perdagangan hari ini terpuruk dengan membukukan pelemahan hingga 4,57 persen dan ditutup di level 7.577,064. Tekanan terjadi hampir di seluruh sektor, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar,” ujar Gunawan, Rabu 4 Maret 2026.
Ia menjelaskan, sejumlah emiten big caps turut mengalami koreksi signifikan, di antaranya BUMI, BBCA, BMRI, BBRI, TLKM, TINS hingga ASII. Pelemahan tajam tersebut mencerminkan meningkatnya aksi jual investor di tengah tingginya ketidakpastian global.
Sementara itu, kinerja mata uang rupiah juga sempat berada di bawah tekanan. Rupiah yang pada sesi perdagangan pagi sempat melemah di atas level 16.900 per dolar AS, berbalik arah meskipun masih ditransaksikan melemah di kisaran 16.880 per dolar AS.
Menurut Gunawan, tekanan di pasar keuangan Indonesia sejalan dengan kondisi pasar keuangan di kawasan Asia secara umum. Banyaknya sentimen negatif yang terakumulasi mendorong pelemahan pasar keuangan secara menyeluruh.
“Perang menjadi pusat masalah yang memunculkan berbagai tekanan lanjutan. Mulai dari ketidakstabilan politik, kenaikan harga minyak, peningkatan tekanan inflasi, hingga risiko eskalasi konflik yang semakin meluas ke wilayah lain,” ucapnya.
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat beserta sekutunya, lanjut Gunawan, membuat prospek ekonomi global ke depan semakin buram. Dampaknya juga terasa pada pasar komoditas, di mana harga minyak dunia, emas, serta sejumlah komoditas pangan mengalami lonjakan dalam beberapa waktu terakhir.
Selama sesi perdagangan, harga emas terpantau mengalami penguatan dan berada di kisaran US$5.183 per ons troy pada perdagangan sore, atau sekitar Rp2,82 juta per gram. Meski demikian, Gunawan mencatat adanya pergeseran perilaku investor yang sebelumnya agresif mengakumulasi emas dan kini mulai beralih ke dolar AS.
“Secara fundamental, emas mulai dinilai sudah berada di level yang mahal. Di sisi lain, dolar AS masih memiliki ruang untuk menguat di tengah ancaman inflasi tinggi dan potensi kebijakan moneter global yang lebih ketat,” katanya.
Namun demikian, Gunawan menilai dinamika antara harga emas dan dolar AS pada akhirnya akan menemukan titik keseimbangan baru selama konflik masih berlangsung.
“Dalam kondisi ekonomi yang benar-benar genting, secara fundamental emas tetap lebih diuntungkan dibandingkan dolar AS sebagai aset lindung nilai utama,” ucap Gunawan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....