Pengamat: Inflasi Sumut Maret Dipicu Ayam dan Emas
- 03 Mar 2026 13:40 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin memproyeksikan inflasi Sumatera Utara (Sumut) pada Maret berpotensi dipengaruhi kenaikan harga daging ayam dan emas, di tengah bayang-bayang perang Iran dengan Amerika Serikat.
Gunawan menjelaskan, pada Februari lalu Sumut merealisasikan inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (month to month). Sejumlah komoditas seperti tomat, cabai merah, daging ayam, emas perhiasan, udang basah, dan daging sapi menjadi penyumbang inflasi.
“Secara umum saya melihat Sumut pada Maret ini sebenarnya berpeluang lebih cenderung mencetak deflasi dibandingkan inflasi, terutama dari komoditas hortikultura,” ujar Gunawan, Selasa, 3 Maret 2026.
Ia memperkirakan komoditas seperti cabai rawit, cabai hijau, cabai merah, serta minyak goreng berpotensi mencatatkan deflasi. Namun di sisi lain, daging ayam dan emas diproyeksikan menjadi penahan laju penurunan harga.
“Saya menghitung pasokan daging ayam memang mengalami kenaikan jelang Idulfitri. Tetapi saya mengkhawatirkan konsumsi bisa melonjak di atas jumlah pasokan yang ada, sehingga tetap mendorong inflasi,” ucapnya.
Saat ini, harga daging ayam di Kota Medan terpantau berada di kisaran Rp42.500 hingga Rp46.000 per kilogram, mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS).
Selain ayam, harga emas juga dinilai berpotensi bertahan tinggi sepanjang Maret. Menurut Gunawan, peralihan investasi ke instrumen safe haven membuat harga emas dunia bergerak di kisaran 5.300 hingga 5.400 dolar AS per ons troy.
“Harga emas perhiasan diproyeksikan naik dalam waktu dekat seiring memburuknya tensi geopolitik global. Selama konflik masih berlangsung, emas akan tetap diminati,” katanya.
Ia mengingatkan, eskalasi perang Iran-AS berpotensi mengubah proyeksi inflasi yang telah dihitung sebelumnya. Konflik tersebut dapat mendorong kenaikan harga komoditas impor seperti kedelai dan gandum, yang berdampak pada harga tahu, tempe, roti, biskuit, dan produk olahan tepung lainnya.
Saat ini harga gandum berada di kisaran 5,75 dolar AS per bushel dan kedelai sekitar 11,5 dolar AS per bushel.
“Jika tekanan geopolitik terus meningkat, bukan hanya pangan impor yang terdampak. Biaya transportasi laut juga berpeluang naik, terutama jika terjadi gangguan jalur distribusi global,” ujarnya.
Gunawan menambahkan, potensi kenaikan biaya asuransi dan distribusi barang dapat terjadi apabila jalur pelayaran strategis terganggu. Meski demikian, dampaknya terhadap layanan logistik di dalam negeri masih perlu dicermati lebih lanjut.
“Pasar masih mencari titik keseimbangan baru. Yang perlu diwaspadai adalah dampak lanjutan terhadap harga kebutuhan pokok di lapangan,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....