Bangun Smelter 2, PT Inalum Targetkan Penuhi Kebutuhan Alumina Domestik

  • 10 Agt 2026 14:33 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan alumina lokal per tahun, dengan kebutuhan mencapai 1,2 juta ton. Saat ini, PT Inalum (Persero) masih mampu memproduksi alumina domestik dengan kapasitas 275 ribu ton hingga 300 ribu ton per tahun, sehingga selebihnya masih impor.

Head Of Corporate Communication PT Inalum (Persero), Utrich Farzah mengatakan upaya yang dilakukan Inalum dengan membangun pabrik peleburan dan pemurnian (smelter) aluminium kedua di Mempawah, Kalimantan Barat. Pembangunan smelter aluminium ke-2 yang dilakukan pada 6 Februari 2026 ini, untuk memenuhi produksi lokal di Smelter 1 Kuala Tanjung, Batubara.

“Saat ini, Alhamdulillah dengan teknologi yang kami punya di Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) kita bisa mengolah bauksit menjadi alumina, sehingga saat ini kebutuhan alumina Inalum tidak kami beli lagi dari impor atau tidak kami beli lagi (2029),” ujar Ultrich kepada wartawan dalam kegiatan UKWR di Gedung Serbaguna RRI Medan, Senin, 10 Agustus 2026.

Dikatakan Ultrich, Smelter 2 tersebut nantinya memproduksi bauksit menjadi alumina dengan target per tahun sebesar 900.000 ton alumina yang dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (anak perusahaan Inalum). Jika terpenuhi, maka dalam setahun Smelter 1 dan 2 bisa memproduksi 1,2 juta ton alumina

“Saat ini kalau di Smelter kami yang di Kuala Tanjung kapasitasnya ada 275.000 ton pertahun, sementara demand (permintaan) domestik sendiri jauh lebih besar. Kami punya mimpi untuk membesarkan kapsitas kami, baik dengan mengupgrade peralatan-peralatan kami di smalter 1 ini ataupun dengan membangun smelter 2 nanti,” ucap Ultrich.

Lebih lanjut dikatakan Ultrich, saat ini produksi aluminium Inalum pada 2029 diperkirakan akan mencapai 900.000 ton per tahun. Jumlah tersebut lebih tinggi dari kebutuhan aluminium primer nasional sebesar 520.000 ton per tahun, dengan total permintaan aluminium di Indonesia mencapai 1,2 juta ton per tahun. Jika memenuhi target di 2029, maka Indonesia dikatakan Ultrich tidak perlu lagi melakukan impor alumina, termasuk dari Australia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....