Harga Pakan Naik, Sebaliknya Ayam Potong Justru Turun
- 29 Jun 2026 18:44 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan- Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin menyebut sejak perang AS – Iran pecah pada bulan Februari, harga pakan ternak khususnya untuk ayam petelur dan ayam potong alami kenaikan. Masing-masing perusahaan pakan punya kebijakan sendiri untuk menetapkan kenaikannya dan dan berapa kali kenaikan tersebut dilakukan.
"Setidaknya ada kenaikan sekitar 3 sampai 5 kali setelah perang pecah, dan telah memicu kenaikan harga pakan sekitar 700 hingga 1.000 per Kg nya," ucap Gunawan, Senin, 29 Juni 2026.
Namun, Gunawan mengatakan, ironisnya harga daging ayam sejak bulan maret ke bulan Juni ini justru mengalami penurunan.
"Harga daging ayam di salah satu pasar di kota medan bergerak turun dari 43 ribu per Kg pada bulan maret, saat ini ditransaksikan dikisaran harga 33 ribu per Kg, atau mengalami penurunan sekitar 23.3%. Sementara penurunan harga daging ayam di salah satu pasar tradisional di Deli Serdang, terjadi penurunan sekitar 16% untuk periode yang sama," kata Gunawan.
Gunawan mengatakan yang menjadi persoalan adalah bagaimana mungkin harga daging ayam turun, namun harga pokok produksinya justru alami kenaikan. Di level produsen, sepekan kemarin harga ayam hidup (bukan daging ayam) itu ada yang menjual 16.500 per Kg.
"Meskipun saat ini mulai kembali naik dikisaran 18 ribu per Kg nya. Realisasi harga daging ayam belakangan ini jelas merugikan para peternak, karena di bawah harga pokok penjualan dikisaran 23 – 25 ribu per Kg," ucap Gunawan.
Jika berkaca pada penurunan harga daging ayam pada dua pekan terakhir ini, penurunan harga daging ayam terbilang wajar karena ada liburan anak sekolah dan lemahnya demand (permintaan) selama bulan Muharam. Namun jika menarik data dari bulan Maret, justru penurunan ini perlu diwaspadai.
"Karena penurunan tersebut bisa saja mengindikasikan kemungkinan adanya tekanan besar pada daya beli masyarakat kita," kata Gunawan.
Dilihat dari sisi persediaan (supply), pada dasarnya data saya menunjukan terjadi penurunan pasokan bulanan sejak bulan Maret. Dimana pada bulan April pasokan bulanan rata-rata turun sekitar 17%, dan di bulan Mei terhadap Maret turun sebanyak 22%.
"Pasokan yang turun tersebut justru menunjukan bahwa supply yang turut tidak lantas mendorong kenaikan harga. Realitanya justru harga turun saat pasokan juga alami penurunan," ucap Gunawan.
Gunawan mengingatkan penurunan harga daging ayam ini jangan disepelekan, mengingat daging ayam masih menjadi menu favorit yang bisa dijadikan indkator daya beli masyarakat. Melemahnya serapan daging ayam ini bisa berimplikasi pada kerugian yang sulit dihindarlkan bagi peternak, khususnya peternak mandiri.
"Karena bebannya sangat besar, pertama kenaikan biaya operasional dan kedua penurunan harga ayam di bawah harga pokok penjualan atau lebih buruknya dibawah harg apokok produksi saat ini," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....