Harga Beras Turun saat Gabah Naik, Pemerintah Harus Waspada
- 07 Apr 2026 06:03 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menyoroti fenomena penurunan harga beras di tengah kenaikan harga gabah yang mendekati Rp9.000 per kilogram. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal yang perlu diwaspadai pemerintah, karena berpotensi memicu lonjakan harga di masa mendatang.
“Harga gabah yang meningkat mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani hingga 1,92 persen secara bulanan pada Maret,” ujar Gunawan, Senin 6 April 2026.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras medium di Sumut saat ini berada di kisaran Rp14.850 hingga Rp15.300 per kilogram. Harga ini turun sekitar Rp100 hingga Rp150 dibandingkan posisi sebelumnya pada awal April yang berada di kisaran Rp14.950 hingga Rp15.450 per kilogram.
Di sisi lain, harga gabah kering panen (GKP) justru mengalami kenaikan dan berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram, bahkan menyentuh Rp8.700 per kilogram untuk gabah kering giling (GKG). Kenaikan ini turut mendorong peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan di Sumatera Utara yang naik 0,73 persen menjadi 105,76.
Menurutnya, jika mengacu pada perhitungan harga keekonomian, tingginya harga gabah seharusnya dapat mendorong harga beras ke level Rp16.000 per kilogram. Namun, intervensi pemerintah melalui penyaluran bantuan sosial (bansos) beras justru menahan kenaikan tersebut.
“Bansos menjadi faktor utama yang menekan permintaan pasar, sehingga harga beras cenderung turun meskipun masa panen telah berakhir,” ucapnya.
Gunawan menilai kondisi ini hanya bersifat sementara dan menyimpan potensi kenaikan harga di masa depan. Terutama jika terjadi gangguan pasokan akibat faktor cuaca ekstrem.
“Situasi ini harus diantisipasi pemerintah, karena gangguan pasokan masih sangat mungkin terjadi seiring perubahan cuaca,” katanya.
Ia menjelaskan, musim kering di sejumlah wilayah berpotensi menurunkan produksi beras. Sementara daerah yang masih surplus bisa mengalami tekanan permintaan dari luar wilayah.
“Kunci pengendalian harga ada pada kemampuan pemerintah menjaga ketersediaan pasokan di tengah ancaman penurunan produksi,” ujarnya.
Selain faktor cuaca, ia juga mengingatkan adanya risiko dari dinamika geopolitik global. Khususnya di Timur Tengah, yang dapat memicu kenaikan harga input pertanian seperti pupuk, insektisida, dan herbisida.
“Pemerintah perlu berhati-hati terhadap potensi kenaikan harga yang dipicu masalah pasokan ke depan,” kata Gunawan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....