Perang Dongkrak NTP Petani Sumut, tapi Ancam Biaya Produksi

  • 01 Apr 2026 16:15 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menilai konflik geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumatra Utara, meskipun di sisi lain berpotensi menjadi ancaman dalam jangka panjang.

“NTP Sumatra Utara kembali mengalami kenaikan meskipun daerah ini mencatat deflasi 0,13 persen secara bulanan. Kenaikan ini didorong oleh hampir seluruh subsektor pertanian,” ujar Gunawan, Rabu, 1 April 2026.

Data menunjukkan subsektor tanaman perkebunan rakyat menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan 2,72 persen, disusul perikanan 1,14 persen, tanaman pangan 0,73 persen, peternakan 0,56 persen, serta hortikultura 0,46 persen.

Menurutnya, lonjakan NTP tidak terlepas dari kenaikan harga crude palm oil (CPO) yang terdorong oleh konflik global.

“Harga CPO melonjak dari kisaran 3.890 hingga 4.850 ringgit Malaysia per ton pada akhir Maret. Kenaikan ini menjadi pendorong utama naiknya NTP,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut bisa menjadi ancaman ke depan, terutama jika biaya produksi petani ikut meningkat.

“Jika harga minyak mentah terus naik, maka harga pupuk akan ikut terdorong. Ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan pada akhirnya bisa menekan kembali NTP,” ucapnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....