Pasca Idulfitri, Harga Cabai Merah di Sumut Terpuruk

  • 31 Mar 2026 17:32 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Harga cabai merah di Sumatera Utara (Sumut) sejak libur panjang Idulfitri 1447 H, terpuruk cukup dalam. Di Kota Medan, harga cabai merah sempat ditransaksikan sekitar 19.800 per Kg, dan sampai saat ini belum beranjak jauh dari kisaran angka Rp21 ribuan per kg.

Hal ini diketahui berdasarkan pemantauan melalui PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis). Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin sempat menemukan harga cabai merah dijual Rp15 ribu per kg.

Di Kabupaten Deli Serdang, harga cabai merah di level petani sempat berada dalam rentang Rp7.000 hingga Rp10.000 per kg. Ia menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan harga cabai merah ini. Ia mengatakan bencana pada bulan November tahun 2025 silam telah memaksa petani cabai kembali menanam ulang tanamannya.

"Banjir besar yang menenggelamkan banyak areal tanaman cabai merah memicu pola tanam yang mundur sekitar satu bulan. Sehingga, seharusnya banyak cabai yang bisa dipanen di awal Ramadan, justru mundur pada bulan Maret yang membuat terjadi penumpukan supply," ucap Gunawan, Selasa 31 Maret 2026.

Selain itu, Gunawan mengatakan adanya panen cabai merah dari klaster petani baru di Aceh. Banyak pasokan yang tetap disupply dari wilayah Aceh, padahal wilayah ini sebelumnya yang paling terdampak banjir, sehingga banyak pasokan cabai dari wilayah tersebut tidak bisa didistribusikan ke wilayah lainnya.

"Pasokan cabai merah dari Aceh masih berlanjut dalam jumlah signifikan pada bulan Februari," ucapnya.

Gunawan menambahkan, kebiasaan dari petani tidak teroganirsir dengan baik menanam cabai dengan harapan ada keuntungna di saat perayaan keagamaan seperti Idulfitri. Petani memiliki ekspektasi yang sama terhadap kemungkinan adanya kenaikan demand atau permintaan di hari besar tertentu.

"Tanpa disadari membuat petani untuk menyesuikan pola bercocok tanam, yang diskenariokan akan dipanen di waktu perayaan keagamaan tersebut terjadi. Alhasil terjadi panen serentak yang membuat supply menggunung, dan memicu terjadinya penurunan harga yang sangat tajam," ujar Gunawan.

Ia mengatakan konsistensi petani terkadang kerap terganggu oleh bencana. Kenaikan harga bahan baku saprotan hingga dinamika harga yang kerap membuat petani kehilangan kemampuan bercocok tanam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....