Jelang Lebaran, Harga Daging Ayam Turun dan Daging Sapi Stabil di Medan
- 16 Mar 2026 20:19 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menilai program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dijalankan pemerintah membantu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang Idulfitri. Berdasarkan pemantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam di Kota Medan justru mengalami penurunan dalam sepekan terakhir.
Rata-rata harga daging ayam saat ini berada di kisaran Rp42.200 per kilogram, turun dari Rp42.400 per kilogram pada Jumat pekan lalu. Penurunan harga tersebut terjadi di tengah peningkatan pasokan daging ayam yang secara mingguan naik sekitar 7 persen.
“Gerakan pangan murah yang dilakukan pemerintah dengan memberikan subsidi pada beberapa komoditas tertentu, akan sangat menolong masyarakat menjelang Idulfitri tahun ini,” ujar Gunawan, Senin 16 Maret 2026.
Gunawan menambahkan, menjelang H-7 hingga hari Idulfitri, biasanya permintaan daging ayam maupun daging sapi meningkat signifikan. Bahkan dapat mencapai 35 hingga 60 persen dibandingkan hari normal.
Sementara itu, harga daging sapi di Kota Medan masih terpantau stabil pada kisaran Rp137 ribu hingga Rp144 ribu per kilogram. Meskipun terjadi peningkatan permintaan di pasar.
“Dari hasil pengamatan langsung di sejumlah rumah potong hewan, jumlah sapi hidup yang dipotong juga meningkat. Dari kisaran 16 hingga 18 ekor per hari menjadi sekitar 28 ekor per hari sejak H-7 hingga saat ini,” ucapnya.
Menurut Gunawan, stabilnya harga daging tidak terlepas dari keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan pasokan di pasar. Selain itu, program Gerakan Pangan Murah serta bantuan sosial pangan dari pemerintah turut membantu menekan tekanan permintaan di pasar tradisional.
Dalam program GPM, masyarakat juga mendapatkan keuntungan tambahan selain harga yang lebih murah, yakni bonus berupa telur ayam dan karkas atau cincangan daging sapi. Program tersebut bahkan hanya mensyaratkan pembayaran Rp1 melalui sistem pembayaran digital QRIS untuk mendapatkan bonus tersebut.
Meski dinilai positif bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, Gunawan mengingatkan adanya potensi moral hazard. Hal ini apabila program tersebut juga dimanfaatkan oleh masyarakat mampu atau pelaku usaha yang sebenarnya tidak menjadi sasaran utama bantuan.
“Program ini sangat baik bagi masyarakat miskin yang membutuhkan. Namun perlu pengawasan agar tidak dimanfaatkan oleh pihak yang sebenarnya tidak layak menerima manfaat tersebut,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....