Harga Cabai Sumut Anjlok, TPID Diminta Waspada

  • 26 Feb 2026 05:30 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menyoroti anjloknya harga cabai merah di Sumut yang sebelumnya sempat menembus Rp40 ribu per kilogram. Dalam sepekan terakhir harga cabai turun tajam, bahkan di sejumlah pasar tradisional sudah menyentuh level Rp17 ribu per kilogram.

“Berdasarkan data PIHPS Kota Medan, harga cabai merah turun dari Rp35.500 per kilogram pada 19 Februari menjadi Rp25.100 per kilogram hari ini. Itu berarti terjadi penurunan sekitar 29,3 persen dalam sepekan. Bahkan dari hasil pengamatan saya di Pasar Tanjung Morawa, ada yang menjual di kisaran Rp17 ribu per kilogram,” ujar Gunawan, Rabu 25 Februari 2026.

Ia menjelaskan, kondisi di Sumut saat ini berbanding terbalik dengan sejumlah daerah lain. Mengacu pada data PIHPS, harga cabai merah di Riau berada di kisaran Rp55.650 per kilogram dan di Sumatra Barat sekitar Rp43.500 per kilogram.

“Sepekan lalu harga cabai merah di Riau masih Rp60.450 per kilogram dan di Sumatra Barat Rp53.650 per kilogram. Tren penurunan di dua wilayah tersebut sejalan dengan penurunan harga di Sumut. Ini menunjukkan pembentukan harga di Sumut turut memengaruhi wilayah lain,” ucapnya.

Menurut Gunawan, sebelumnya sempat muncul kekhawatiran gangguan panen cabai merah di Sumut akan memicu lonjakan harga di Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatra Barat. Pasalnya, sebagian pasokan cabai dari Sumut mengalir ke daerah-daerah tersebut.

“Namun yang terjadi justru sebaliknya. Harga di Sumut yang sempat tinggi mampu menggiring pembentukan harga di wilayah lain, dan kini ketika Sumut turun tajam, daerah lain juga ikut terkoreksi,” katanya.

Meski demikian, Gunawan mengingatkan dinamika pasar cabai masih sangat fluktuatif dan belum sepenuhnya stabil. Ia menilai pemerintah daerah bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tidak boleh berpangku tangan dengan kondisi penurunan harga saat ini.

“Pasar masih sangat dinamis dan berpeluang membuat harga bergerak sangat volatile. Karena itu, pengawasan dan langkah antisipatif tetap perlu disiapkan,” kata Gunawan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....