Mengupas Tradisi Tintin Marangkup pada Pernikahan Batak Toba
- 30 Sep 2026 10:04 WIB
- Medan
Poin Utama
- #adatBatak
- #titinmarakkup
- #budayabatak
RRI.CO.ID, Medan-Dalam kebudayaan masyarakat Batak Toba, ada satu pepatah filosofis yang sangat masyhur: "Elek marboru, somba marvis/somba mar-Tulang, manat mardongan tubu." Pepatah ini merangkum pilar utama tata relasi kekerabatan Dalihan Na Tolu, di mana sosok Tulang (paman) menempati posisi yang amat dimuliakan dan dihormati (somba mar-Tulang).
Rasa hormat yang mendalam kepada Tulang bukan sekadar formalitas garis keturunan, melainkan manifestasi dari keyakinan spiritual dan sosial bahwa Tulang adalah sumber berkah (pasupasu) dan mata air kehidupan bagi keponakannya (bere). Penghormatan tinggi ini tercermin secara nyata dan anggun dalam salah satu ritual paling krusial pada pernikahan adat Batak Toba, yaitu Tintin Marangkup. Kata Tintin berarti cincin atau simbol perhiasan bernilai tinggi, sedangkan Marangkup berarti merangkap, mengapit, atau merangkul. Tintin Marangkup adalah prosesi penyerahan bagian dari sinamot (mahar/mas kawin) oleh pihak Parboru (keluarga pengantin wanita) kepada Tulang ni Hela (paman dari pengantin pria) pada saat puncak pesta adat pernikahan (Pesta Unjuk).
Prosesi Ini Terjadi karena:
- Jodoh di Luar Pariban, ketika pengantin pria menikah dengan wanita yang bukan sepupu kandungnya (bukan boru ni tulang-nya), maka hak adat Tulang untuk memberikan putrinya tidak terwujud.
- Pembagian Hak Adat, sebagai gantinya, pengantin wanita tersebut secara adat "diangkat" dan diakui pula sebagai putri oleh Tulang ni Hela.
- Pengakuan Kehormatan, pihak Parboru menyerahkan sebagian sinamot yang mereka terima kepada Tulang ni Hela sebagai bentuk apresiasi dan permohonan restu.
Prosesi Pelaksanaan Tintin Marangkup ini berlangsung secara khidmat di hadapan seluruh raja-raja adat(turpuk ini huta) yang hadir dalam Pesta:
- Penyerahan Tuhor(mahar),di tengah forum adat, orang tua dan kerabat pengantin wanita melangkah menghampiri rombongan Tulang ni Hela untuk menyerahkan Amplop Tintin Marangkup (sebagian uang sinamot).
- Penyampaian Umpasa, penyerahan diiringi lantunan umpasa (pantun adat Batak) yang penuh makna kekeluargaan, seperti ucapan terima kasih karena telah membesarkan pengantin pria dan permohonan agar pengantin wanita diterima sebagai keponakan baru.
- Penyematan Ulos Holong dan Poda, pihak Tulang ni Hela menerima Tintin Marangkup tersebut dengan penuh kehangatan, kemudian menyematkan kain Ulos Holong kepada kedua mempelai seraya menguntai doa-doa kebaikan (poda ni maradat).
Adapun Makna Mendalam di BalikTradisi Tintin Marangkup ini menyimpulkan beberapa nilai adiluhung dalam kebudayaan Batak:
- Fleksibilitas dan Keadilan Hukum Adat, Adat Batak sangat menghargai kebebasan generasi muda dalam memilih pasangan, namun tetap menyediakan mekanisme adat agar tidak ada pihak kekerabatan yang dilangkahi atau diabaikan penghormatannya.
- Menyambung Tali Silaturahmi, melalui Tintin Marangkup, ikatan kekeluargaan tidak terputus, melainkan justru makin meluas. Pengantin wanita kini memiliki dua keluarga hula-hula yang wajib dihormati: orang tua kandungnya dan paman dari suaminya.
- Keseimbangan Posisi Sosial, menegaskan bahwa mahar pernikahan dalam tradisi Batak bukanlah ajang jual beli, melainkan sarana redistribusi kehormatan dan rezeki di antara pilar-pilar Dalihan Na Tolu.
Kedudukan Tulang yang begitu tinggi dalam kebudayaan Batak Toba memperlihatkan betapa pentingnya menjaga rasa hormat kepada garis keturunan ibu. Melalui Tintin Marangkup, adat Batak membuktikan dirinya sebagai tata krama yang tidak hanya runtut dan terstruktur, tetapi juga sarat akan kasih sayang, persaudaraan, dan nilai keharmonisan yang tak lapuk oleh waktu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....