Telangkai Melayu, Penjaga Tradisi dan Adat di tengah Perubahan Zaman
- 17 Sep 2026 23:51 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Telangkai memiliki peran penting dalam pelaksanaan adat Melayu, khususnya dalam rangkaian prosesi pernikahan. Keberadaan Telangkai tidak hanya sebagai perantara antara kedua keluarga, tetapi juga menjadi sosok yang memahami tata cara, bahasa, pantun, syair, serta nilai-nilai adat Melayu.
Sekretaris Umum Himpunan Telangkai Pelestari Adat Melayu Drs. Datok Chairul Anwar menjelaskan, pada masa kerajaan peran sebagai perantara dalam urusan adat dikenal dengan istilah Bintara Sabda atau perantara. Namun, seiring perkembangan zaman, peran tersebut kini lebih banyak dijalankan oleh Telangkai yaitu orang tua, maupun tokoh yang dituakan dan memahami adat Melayu.
Menurutnya, Telangkai juga memiliki fungsi penting dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam proses adat. Telangkai dapat menjadi pihak yang menyampaikan usulan dan mencari jalan keluar apabila terjadi permasalahan antara keluarga calon pengantin.
Salah satunya berkaitan dengan konsekuensi adat apabila terjadi pembatalan dalam proses pernikahan. Jika pembatalan dilakukan pihak perempuan, terdapat ketentuan adat berupa pengembalian atau pembayaran tertentu kepada pihak laki-laki. Sebaliknya, apabila pihak laki-laki yang membatalkan, sejumlah pemberian seperti uang kasih sayang maupun cincin tanda dapat dinyatakan hangus, sesuai kesepakatan dan ketentuan adat yang berlaku.
Chairul Anwar menilai, keberadaan Telangkai hingga kini masih penting. Namun, perannya menghadapi tantangan karena dalam berbagai acara adat masyarakat mulai banyak menggunakan pembawa acara atau MC umum.
"Karena itu, seorang Telangkai dituntut benar-benar memahami adat Melayu. Selain menguasai tata cara prosesi, Telangkai juga harus mampu menggunakan bahasa yang sesuai, termasuk pantun dan syair yang mengandung nasihat serta disampaikan dengan kata-kata yang indah", ujarnya saat berdialog di Podcast RRI Medan Selasa, 15 September 2026 .
Kemampuan tersebut, menurut Chairul Anwar, umumnya diperoleh secara turun-temurun dalam keluarga. Pengetahuan mengenai adat, pantun, syair, dan tata bahasa Melayu diwariskan dari generasi ke generasi sehingga keberadaan Telangkai tetap dapat dipertahankan.
Untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut, pelatihan dan seminar Telangkai juga perlu terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan yang digelar di Gedung Majelis Adat Melayu, Jalan Brigjen Katamso Medan.
Minat generasi muda untuk mempelajari peran Telangkai dinilai cukup besar, khususnya dari kawasan yang memiliki lingkungan masyarakat Melayu seperti Hamparan Perak. Bahkan, pelatihan mengenai adat dan Telangkai dapat mulai dikenalkan sejak usia sekolah, termasuk tingkat anak SMP.
Chairul Anwar berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari Telangkai, sehingga tradisi Melayu tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, regenerasi menjadi kunci agar nilai-nilai adat Melayu, termasuk pantun, syair, tata cara pernikahan dan berbagai bentuk komunikasi adat, tetap dikenal dan dipahami oleh generasi berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....