Cerpen Modern Jadi Jalan Kenalkan Folklor Sumut

  • 29 Agt 2026 12:20 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Cerita rakyat Sumatera Utara dinilai memiliki kekayaan yang besar, namun sebagian mulai kurang dikenal masyarakat. Mengemas kembali folklor ke dalam cerpen modern menjadi salah satu cara yang dinilai dapat mendekatkan cerita tersebut kepada generasi pembaca saat ini.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Festival Ngobrol Buku 2026: Lokakarya Penulisan Cerpen "Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern" di Roha Cafe, Jalan Abdullah Lubis, Kota Medan. Hari pertama kegiatan yang digelar Ngobrol Buku Indonesia tersebut berlangsung pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Ketua Panitia Lokakarya, Alda Muhsi, mengatakan kondisi tersebut pula yang melatarbelakangi pemilihan cerita rakyat Sumatera Utara sebagai dasar penulisan dalam lokakarya.

“Budaya-budaya lokal atau cerita rakyat itu sudah mulai ditinggalkan. Makanya kita coba mengangkat ini dengan menuliskan sebuah cerpen modern, dengan tetap mempertahankan sumber cerita rakyat atau folklor tadi,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber lokakarya, Koko Hendri Lubis mengatakan, keberagaman etnis membuat Sumatera Utara memiliki banyak cerita rakyat dengan karakteristik masing-masing. Jumlahnya bahkan diperkirakan mencapai ratusan cerita yang tersebar di berbagai daerah.

“Sumatera Utara memiliki sangat banyak cerita rakyat yang bervariasi. Beberapa etnis yang ada di Sumatera Utara itu masing-masing punya cerita rakyat. Sangat kaya, mungkin jumlahnya ratusan cerita,” katanya.

Sejumlah cerita yang disebut cukup dikenal antara lain Merak Jingga dari Tanah Deli, Palu Hantu, hingga cerita Panglima Berbulu Besi dari kawasan Balige. Menurut Koko, setiap daerah memiliki kekhasan terutama pada latar dan nama tokoh yang mencerminkan identitas masyarakat setempat.

Namun, ia menilai banyak cerita rakyat mulai dilupakan. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan folklor sekaligus mengenalkannya kepada generasi berikutnya.

Koko menjelaskan penulis dapat melakukan interpretasi baru terhadap cerita rakyat, termasuk mengubah nama maupun karakter tokoh untuk menyesuaikannya dengan cerita modern. Namun, unsur dasar yang menjadi identitas cerita asal tetap perlu dipertahankan agar pembaca dapat mengenali sumber folklornya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....