Kartu Pos: Dari Sarana Berkirim Kabar hingga Menjadi Rekam Jejak Sejarah
- 27 Agt 2026 23:54 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Sebelum pesan instan dan media sosial hadir, kartu pos menjadi salah satu cara sederhana bagi masyarakat untuk berbagi kabar sekaligus mengirimkan gambaran tentang tempat yang mereka kunjungi. Meski kini tidak lagi sepopuler dahulu, kartu pos tetap menyimpan nilai sejarah, kenangan, dan sentuhan personal yang sulit digantikan komunikasi digital.
Dilansir dari Pos Indonesia, jauh sebelum kartu pos dikenal luas, masyarakat pada pertengahan abad ke-19 umumnya menyampaikan kabar melalui surat yang dikirim menggunakan amplop. Selain berfungsi melindungi isi surat, amplop pada masa itu juga dapat dihiasi ilustrasi, ucapan, maupun gambar pemandangan. Perkembangan budaya visual dan sistem layanan pos tersebut kemudian ikut membuka jalan bagi munculnya bentuk komunikasi yang lebih sederhana.
Salah satu tonggak awal dalam sejarah kartu pos terjadi pada 1840. Pada tahun tersebut, Theodore Hook diketahui mengirim sebuah kartu bergambar kepada dirinya sendiri. Kartu yang kemudian dikenal sebagai Penny Penates tersebut menjadi salah satu artefak penting dalam sejarah awal kartu pos bergambar.
Namun, perkembangan kartu pos berlangsung melalui sejumlah tahap dan tidak hanya terjadi di satu negara. Di Amerika Serikat, John P. Charlton memperoleh hak cipta atas kartu pos yang dicetak secara pribadi pada 1861. Hak tersebut kemudian dialihkan kepada Hyman L. Lipman, yang memproduksi dan menjual kartu tersebut. Pemerintah Amerika Serikat baru menerbitkan kartu pos resmi pada 1873.
Tonggak penting lainnya muncul di Eropa. Pada 1869, Austria menjadi negara pertama yang menerbitkan kartu pos secara resmi melalui Korrespondenz-Karte. Kehadiran kartu tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan kartu pos modern. Dalam waktu relatif singkat, konsep kartu pos kemudian menyebar ke berbagai negara Eropa dan wilayah lainnya.
Komunikasi yang Lebih Sederhana
Berbeda dengan surat konvensional yang membutuhkan amplop, kartu pos memungkinkan pengirim menuliskan pesan secara langsung pada permukaan kartu. Bentuknya yang sederhana membuat kartu pos menjadi pilihan praktis untuk menyampaikan pesan singkat.
Popularitas kartu pos juga didukung oleh perkembangan sistem pos dan teknologi percetakan. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, produksi kartu pos berkembang pesat. Kartu pos tidak lagi hanya digunakan untuk menyampaikan pesan, tetapi mulai dihiasi gambar pemandangan, bangunan, tokoh, tempat wisata, ucapan, hingga berbagai peristiwa penting. Smithsonian Institution mencatat bahwa produksi kartu pos berkembang pesat pada akhir 1800-an dan awal 1900-an karena kartu pos dianggap sebagai cara yang cepat dan mudah untuk berkomunikasi.
Perkembangan fotografi kemudian memberikan pengaruh besar. Gambar tempat-tempat terkenal dapat direproduksi dalam jumlah banyak sehingga masyarakat dapat mengirimkan “gambaran” sebuah kota atau destinasi kepada orang lain. Kartu pos akhirnya menjadi bagian dari perkembangan pariwisata karena wisatawan dapat membeli kartu bergambar tempat yang mereka kunjungi dan mengirimkannya kepada keluarga maupun sahabat.
Memasuki Era Keemasan
Popularitas kartu pos mencapai puncaknya pada awal abad ke-20. Salah satu periode yang dikenal sebagai Golden Age of Postcards atau Era Keemasan Kartu Pos berlangsung sekitar 1907 hingga 1915, bertepatan dengan munculnya era divided back. Pada periode ini, bagian belakang kartu pos dapat dibagi menjadi area untuk menuliskan alamat dan area untuk pesan. Perubahan tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi pengirim untuk menyampaikan pesan tanpa mengorbankan gambar pada bagian depan.
Pada masa tersebut, kartu pos berkembang menjadi budaya populer. Masyarakat tidak hanya menggunakannya untuk berkirim kabar, tetapi juga mengoleksinya dan menyimpannya dalam album atau scrapbook. Tema kartu pun sangat beragam, mulai dari pemandangan kota, bangunan, tempat wisata, kartu ucapan, humor, transportasi, hingga berbagai peristiwa dan tokoh.
Kartu pos bahkan dapat menjadi sumber informasi sejarah. Foto yang terdapat pada kartu lama dapat memperlihatkan kondisi suatu kota, bentuk bangunan, kendaraan, pakaian, maupun kehidupan masyarakat pada suatu periode. Karena itu, kartu pos lama kini tidak hanya menarik bagi kolektor, tetapi juga memiliki nilai dokumentasi bagi penelitian sejarah dan budaya.
Perkembangan Kartu Pos di Indonesia
Perkembangan kartu pos juga sampai ke wilayah Indonesia pada masa pemerintahan kolonial. Generasi awal kartu pos di Indonesia mulai diterbitkan pada 1874. Pada tahap awal, kartu pos tersebut belum menggunakan gambar dan lebih berfungsi sebagai sarana berkirim pesan.
Memasuki dekade-dekade berikutnya, kartu pos bergambar mulai berkembang. Gambar pemandangan, kota, bangunan, serta berbagai tempat di Hindia Belanda menjadikan kartu pos tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media visual yang merekam kondisi wilayah pada masa tersebut.
Perkembangan ini membuat kartu pos memiliki nilai historis tersendiri bagi Indonesia. Kartu pos lama dapat memperlihatkan gambaran berbagai kota dan bangunan yang mungkin telah berubah atau bahkan tidak lagi ada. Dengan demikian, kartu pos dapat menjadi salah satu sumber visual untuk melihat perubahan suatu wilayah dari masa ke masa.
Dari Komunikasi hingga Barang Koleksi
Seiring berkembangnya teknologi komunikasi, penggunaan kartu pos sebagai sarana berkirim pesan mulai mengalami penurunan. Telepon, surat elektronik, telepon seluler, dan aplikasi pesan instan menawarkan kecepatan yang tidak dapat diberikan oleh layanan pos.
Meski demikian, kartu pos tidak sepenuhnya kehilangan tempat. Fungsinya bergeser dari alat komunikasi sehari-hari menjadi suvenir, barang koleksi, media seni, dan benda kenangan. Smithsonian mencatat bahwa sejak berkembangnya surat elektronik dan e-card pada 1990-an, popularitas kartu pos sebagai alat komunikasi mulai menurun. Saat ini, kartu pos lebih banyak dibeli sebagai suvenir.
Perubahan fungsi tersebut justru membuat kartu pos memiliki karakter yang berbeda. Pesan digital dapat dikirim dalam hitungan detik dan dengan mudah tertimbun oleh percakapan baru. Sebaliknya, kartu pos merupakan benda fisik yang dapat disimpan selama bertahun-tahun. Tulisan tangan, gambar, prangko, serta cap pos di dalamnya dapat menjadi bagian dari sebuah kenangan.
Tetap Bermakna di Era Digital
Di tengah komunikasi digital yang serba cepat, mengirim kartu pos mungkin terlihat sebagai cara lama. Namun, justru proses yang lebih lambat tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Pengirim perlu memilih kartu, menuliskan pesan, mencantumkan alamat, menempelkan prangko, kemudian menyerahkannya kepada layanan pos.
Kartu pos juga membawa unsur personal yang sulit ditemukan dalam pesan instan. Sebuah tulisan tangan dapat menunjukkan perhatian secara lebih nyata karena penerima memegang benda yang secara khusus dipilih dan dikirim oleh seseorang.
Hingga kini, layanan pos masih memungkinkan masyarakat menggunakan kartu pos sebagai sarana berbagi pesan dan kenangan. Keberadaannya menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu membuat bentuk komunikasi lama benar-benar hilang. Sebaliknya, sebuah media dapat berubah fungsi dan memperoleh makna baru sesuai perkembangan zaman.
Perjalanan kartu pos pada akhirnya bukan hanya tentang sejarah layanan pos. Di balik selembar kartu bergambar, terdapat cerita mengenai perkembangan teknologi percetakan, fotografi, perjalanan, pariwisata, budaya populer, hingga cara manusia menjaga hubungan dengan orang lain.
Ketika hampir semua pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, kartu pos menawarkan sesuatu yang semakin jarang ditemukan: sebuah pesan yang dapat disentuh, disimpan, dan dikenang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....