Cerita Kota Perkuat Identitas Medan
- 23 Agt 2026 11:27 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Cerita sejarah dan dokumentasi visual dinilai memiliki peran penting dalam menjaga identitas Kota Medan di tengah pembangunan dan perubahan kawasan perkotaan. Potensi sejarah yang dimiliki kota juga dapat dikembangkan menjadi daya tarik, sekaligus memperkuat citra Medan.
Hal tersebut mengemuka dalam Better City Talk #1 bertajuk “Merawat Cerita, Membentuk Kota” yang digelar Clapham Collective bersama Medan Cultural Change. Kegiatan berlangsung di Kantor Clapham Collective, Medan, pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Founder Medan Heritage, Rizky Syahfitri Nasution, mengatakan Medan memiliki perjalanan sejarah yang kuat untuk dikembangkan sebagai identitas kota. Menurutnya, potensi tersebut tidak hanya berasal dari kuliner, tetapi juga sejarah perkembangan industri dan perkebunan Tembakau Deli.
“Sejarah dari perindustrian, perkebunan Tembakau Deli ini harus diangkat sebagai sebuah storytelling ikonik yang nantinya bisa membentuk brand-nya Medan menjadi wisata sejarah. Karena kuliner itu hanya bagian terkecil dari heritage, maka kita harus bergerak dari sejarahnya,” katanya.
Menurut Rizky, penguatan cerita sejarah dapat membuka peluang bagi berbagai sektor kreatif di Kota Medan. Desain, literasi, media, komunitas hingga UMKM dapat memanfaatkan kekayaan cerita lokal untuk menghasilkan karya maupun kegiatan yang memiliki identitas kota.
Masyarakat juga dinilai memiliki peran dalam merawat sejarah dengan mulai mengenali cerita di lingkungan masing-masing. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan kembali sejarah tersebut dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.
Sementara itu, Founder Urban Sketchers Medan, Yulianto Qin, menilai dokumentasi visual diperlukan untuk merekam berbagai perubahan yang terjadi di Kota Medan. Dokumentasi menjadi penting karena bangunan, kuliner hingga unsur budaya dapat berubah atau bahkan hilang seiring perkembangan kota.

“Bisa saja kita dokumentasi sekarang, besok bangunannya sudah hilang, makanannya sudah hilang atau budayanya tiba-tiba tergantikan. Kalau kita dokumentasikan dengan gambar dan sebagainya, minimal kita punya catatannya,” ujarnya.
Yulianto mencontohkan kawasan Kesawan yang masih menyimpan sejumlah bangunan bersejarah, termasuk peninggalan arsitektur peranakan Tionghoa. Berkurangnya bangunan heritage dinilai tidak hanya mengubah wajah kawasan, tetapi juga berpotensi menghilangkan sebagian citra dan ingatan tentang Medan.
Upaya mendokumentasikan kota juga dilakukan Urban Sketchers Medan melalui karya-karya visual. Komunitas tersebut dijadwalkan menggelar pameran tentang Kota Medan pada 29 Agustus 2026, kemudian menampilkan karya bertema Danau Toba dalam Kaldera Fest pada September mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....