Berawal dari Musik Rock, Tengku Ryo Rizqan Menemukan Jati Diri di Musik Melayu
- 17 Agt 2026 19:20 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Siapa sangka, sebelum dikenal sebagai violis dan komposer musik Melayu, Tengku Ryo Rizqan, B.Mus.Ed., M.Sn., pernah menggeluti berbagai genre musik, mulai dari gitar klasik, flamenco, hingga rock. Perjalanan panjang itulah yang akhirnya mengantarkannya kembali menemukan jati diri pada musik dan budaya Melayu.
Kisah tersebut dibagikannya saat menjadi narasumber dalam program Resam Melayu di Pro 4 RRI Medan bertajuk "Siapa Pewaris Alat Musik dan Lagu Melayu agar Tak Hilang Ditelan Zaman?"
Ryo mengatakan, kecintaannya terhadap musik berawal dari lingkungan keluarga yang lekat dengan tradisi Melayu. Kakeknya memiliki kelompok ronggeng sehingga sejak kecil ia akrab dengan lantunan musik Melayu.
"Saya besar di lingkungan keluarga yang sangat dekat dengan musik Melayu. Kakek saya memiliki grup ronggeng, jadi sejak kecil saya sudah terbiasa mendengar musik Melayu di rumah," ujarnya.
Meski demikian, ketertarikannya terhadap musik tradisional tidak tumbuh begitu saja. Saat kecil, ia justru lebih menyukai seni lukis. Ayahnya kemudian memperkenalkan berbagai jenis musik, termasuk musik flamenco dari Spanyol. Dari situlah ia mulai mempelajari gitar klasik sebelum akhirnya mengenal musik rock.
Ketertarikannya terhadap gitar membuatnya banyak mempelajari karya para musisi dunia, termasuk komposisi-komposisi karya pemain biola legendaris Niccolò Paganini. Kekagumannya terhadap karya-karya tersebut membangkitkan rasa penasarannya untuk mendalami permainan biola.
Namun, Ryo mengaku sempat enggan memainkan biola Melayu. Saat itu, alat musik tersebut identik dengan generasi tua sehingga ia merasa kurang percaya diri.
"Dulu malu kita main biola. Dibilang macam atuk-atuk yang main biola," kenangnya.
Rasa ingin tahunya terhadap musik terus membawanya belajar lebih jauh. Ryo kemudian melanjutkan pendidikan musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di kampus tersebut, ia tidak hanya mendalami permainan biola, tetapi juga mempelajari musik tradisional dan musik orkestra.
Semangatnya dalam menekuni dunia musik membawanya memperoleh kesempatan belajar di Toronto, Kanada. Perjalanan akademiknya berlanjut hingga mendapat kesempatan melakukan penelitian di Marmara University, Turki, dengan fokus pada musik Sufi dan filsafat musik.
Selain menempuh pendidikan formal, Ryo juga aktif tampil di berbagai panggung pertunjukan dan mengajar musik di Bandung. Berbagai pengalaman tersebut semakin memperkaya wawasan dan perjalanan bermusiknya.
Di tengah perjalanan itu, sebuah pertemuan dengan seorang kenalan di toko buku menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya. Mengetahui Ryo berasal dari Sumatera, orang tersebut menyarankan agar ia membaca buku tentang Amir Hamzah karya Nh. Dini.
Ryo mengaku merasa "tertampar" setelah membaca buku tersebut. Ia menyadari selama ini lebih banyak mempelajari musik dan budaya dari luar, sementara sastra, sejarah, dan kebudayaan Melayu di daerah asalnya sendiri belum benar-benar ia pahami.
Pengalaman itu mendorongnya menelusuri kembali sejarah, sastra, dan musik Melayu. Sejak saat itu, ia mulai mendalami kebudayaan Melayu hingga menjadikannya sebagai fondasi dalam perjalanan berkesenian.
"Semakin jauh saya belajar musik, semakin saya menyadari bahwa akar saya ada di musik Melayu," katanya.
Kesadaran tersebut kemudian melahirkan berbagai karya yang tetap berakar pada tradisi, namun terbuka terhadap perkembangan zaman. Baginya, pengalaman mempelajari berbagai genre musik menjadi bekal untuk menghadirkan musik Melayu yang tetap hidup tanpa kehilangan identitasnya.
Kini, Tengku Ryo Rizqan terus berkarya sebagai violis dan komposer musik Melayu. Melalui karya-karyanya, ia berharap semakin banyak generasi muda mengenal, mencintai, dan melestarikan musik Melayu sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....