Tengkulok Warisan dan Tengkulok Kreasi Miliki Peran Berbeda dalam Budaya
- 20 Jul 2026 08:24 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Pelestarian budaya Melayu tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan bentuk warisan yang telah ada, tetapi juga melalui kreativitas yang tetap berpijak pada nilai dan kaidah budaya. Hal tersebut tercermin dari keberadaan tengkulok warisan dan tengkuluk kreasi yang memiliki fungsi berbeda dalam menjaga keberlangsungan tradisi Melayu.
Hal itu disampaikan Ketua Balai Seni Tanjak Tengkulok Kesultanan Serdang, Datok Abu Abdillah Fahmi, ST, saat menjadi narasumber dalam program Resam Melayu RRI Pro 4 Medan bertajuk "Tengkulok atau Tanjak? Sejarah, Makna, dan Jejak Peradaban Melayu di Sumatera Utara."
Menurut Fahmi, tengkulok warisan merupakan bentuk yang masih mempertahankan keautentikan, baik dari segi reka bentuk maupun tata cara pembuatannya. Sementara itu, tengkulok kreasi merupakan hasil pengembangan yang lahir dari kreativitas generasi masa kini.
"Tengkulok kreasi merupakan bubuhan baru yang lahir karena kreativitas generasi sekarang. Sementara tengkulok warisan adalah bentuk yang keautentikan serta reka bentuknya masih tetap terjaga," ujarnya.
Ia menjelaskan, para pegiat budaya umumnya dapat membedakan tengkulok warisan dengan hasil kreasi maupun tiruan. Menurutnya, tengkulok warisan tetap memenuhi syarat dan kaidah dalam proses pembuatannya, sedangkan hasil yang sekadar meniru biasanya meninggalkan beberapa unsur penting.
"Ketika tengkulok warisan itu keluar, kita tahu apakah itu wujud karena belajar atau hanya meniru. Karena syarat-syaratnya pasti ada yang tertinggal," katanya.
Fahmi menegaskan bahwa kreativitas dalam mengembangkan tengkulok tetap diperlukan sebagai bagian dari pelestarian budaya. Namun, pengembangan tersebut harus tetap menghormati bentuk asli agar identitas budaya Melayu tidak kehilangan nilai dan makna yang diwariskan oleh para leluhur.
Selain membahas jenis tengkulok, ia juga menjelaskan istilah bagi orang yang memiliki keahlian membuat tanjak dan tengkuluk. Berdasarkan catatan lama Melayu, sebutan tersebut adalah pengarang atau penyolek.
Menurutnya, istilah tersebut merupakan bagian dari khazanah budaya yang juga perlu diperkenalkan kembali kepada masyarakat. Pelestarian budaya, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan menjaga benda atau busana adat, tetapi juga mempertahankan pengetahuan, istilah, serta teknik yang menyertainya agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Program Resam Melayu RRI Pro 4 Medan menghadirkan berbagai pembahasan mengenai sejarah, adat istiadat, dan budaya Melayu bersama narasumber yang kompeten di bidangnya. Program ini disiarkan setiap Jumat pukul 20.15–21.30 WIB dan dipandu oleh Datok Yan Djuna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....