Pengamat Usulkan Ornamen Melayu Diterapkan pada Bangunan Pemerintah Kota Medan
- 08 Jul 2026 11:01 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Identitas budaya Melayu Deli dinilai perlu lebih dihadirkan dalam wajah Kota Medan, baik melalui desain bangunan pemerintah maupun penggunaan pakaian adat pada kesempatan tertentu. Hal tersebut disampaikan Pengamat Sejarah Kota Medan H. Muhammad Fadli Nasution, S.T. dalam program Resam Melayu RRI Pro 4 Medan bertajuk "Menyingkap Sejarah Kota Medan dari Jantung Budaya Melayu Deli"
Dalam dialog yang dipandu Datok Yan Djuna, Muhammad Fadli mengatakan sebagai seorang yang juga memiliki latar belakang di bidang arsitektur, ia melihat Kota Medan memiliki peluang besar untuk semakin memperkuat identitas budaya Melayu melalui konsep pembangunan kota.
Menurutnya, bangunan-bangunan pemerintah di Kota Medan dapat mengadopsi lebih banyak ornamen khas Melayu Deli, seperti motif pucuk rebung maupun lebah bergantung, sehingga karakter budaya lokal lebih terlihat pada ruang-ruang publik.
"Kalau bisa bangunan-bangunan pemerintahan diberi ornamen Melayu seperti pucuk rebung atau lebah bergantung. Dengan begitu identitas Kota Medan sebagai daerah yang berakar dari budaya Melayu akan semakin terlihat," ujarnya.
Selain memperkuat unsur arsitektur, Muhammad Fadli juga mengusulkan agar bangunan-bangunan bersejarah yang telah hilang dapat dihadirkan kembali dalam bentuk maket atau replika. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat untuk mengenal sejarah perkembangan Kota Medan.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum mengetahui lokasi maupun bentuk bangunan-bangunan penting yang pernah menjadi bagian dari sejarah kota. Karena itu, pembangunan maket atau pusat informasi sejarah dinilai dapat membantu memperkenalkan warisan tersebut kepada generasi muda.
Tidak hanya dari sisi fisik bangunan, Muhammad Fadli juga mendorong penguatan identitas budaya melalui penggunaan busana Melayu di lingkungan pemerintahan. Ia mengusulkan agar pegawai, khususnya di lingkungan Pemerintah Kota Medan, mengenakan pakaian adat Melayu pada hari tertentu, misalnya setiap Jumat.
Menurutnya, kebijakan tersebut bukan sekadar penggunaan pakaian tradisional, tetapi juga menjadi upaya memperkenalkan filosofi budaya Melayu kepada masyarakat. Ia mencontohkan baju Melayu Teluk Belanga yang memiliki lima kancing sebagai simbol lima rukun Islam, sehingga setiap unsur busana memiliki makna tersendiri.
Meski demikian, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut diterapkan secara bertahap dengan mempertimbangkan ketersediaan dan harga pakaian adat di masyarakat. Pemerintah dinilai perlu mendorong produksi busana Melayu yang lebih mudah dijangkau sebelum menjadikannya sebagai kebijakan yang bersifat luas.
Di akhir dialog, Muhammad Fadli berharap pelestarian sejarah tidak berhenti pada diskusi, tetapi diwujudkan melalui kebijakan nyata yang mampu memperkuat identitas budaya Kota Medan. Menurutnya, sejarah, arsitektur, dan budaya merupakan satu kesatuan yang dapat menjadi fondasi dalam membangun kota tanpa meninggalkan akar budayanya.
Sementara itu, pembawa acara Datok Yan Djuna mengajak masyarakat untuk terus mencintai sejarah, menjaga adat, serta melestarikan budaya Melayu sebagai bagian dari jati diri Kota Medan. Menurutnya, pelestarian sejarah merupakan tanggung jawab bersama agar warisan budaya tetap lestari bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....