Sejarah Kota Medan Harus Berlandaskan Bukti, Bukan Sekadar Cerita

  • 08 Jul 2026 11:02 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Peringatan Hari Jadi ke-436 Kota Medan menjadi momentum untuk mengajak masyarakat memahami sejarah secara objektif dan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal tersebut disampaikan Pengamat Sejarah Kota Medan H. Muhammad Fadli Nasution, S.T. dalam program Resam Melayu RRI Pro 4 Medan bertajuk "Menyingkap Sejarah Kota Medan dari Jantung Budaya Melayu Deli" pada Jumat, 3 Juli 2026.

Dalam Obrolan Resam Melayu yang dipandu Datok Yan Djuna tersebut, Muhammad Fadli mengatakan sejarah merupakan ilmu yang harus didukung oleh bukti autentik, baik berupa arsip, dokumen, bangunan bersejarah, maupun benda-benda peninggalan yang masih dapat diverifikasi. Menurutnya, sejarah tidak dapat dibangun hanya berdasarkan cerita yang berkembang dari mulut ke mulut tanpa dasar yang jelas.

"Kalau bicara sejarah harus ada pembuktiannya. Ada istana, masjid, alun-alun, dokumen maupun benda pusaka. Kalau tidak ada bukti, tentu perlu dikaji kembali agar tidak menjadi sekadar cerita," ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan peninggalan fisik menjadi salah satu unsur penting dalam menelusuri perjalanan sejarah suatu daerah, termasuk Kota Medan yang memiliki keterkaitan erat dengan Kesultanan Deli. Karena itu, penelitian sejarah harus mengedepankan pendekatan ilmiah agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar-benar memiliki dasar yang kuat.

Muhammad Fadli juga menyoroti semakin mudahnya penyebaran informasi sejarah melalui media sosial. Menurutnya, kondisi tersebut memberikan manfaat karena masyarakat semakin tertarik mempelajari sejarah. Namun di sisi lain, banyak informasi yang beredar belum melalui proses verifikasi sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Ia mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima berbagai informasi sejarah yang beredar di ruang digital. Menurutnya, masyarakat perlu mampu membedakan antara fakta sejarah, hikayat, cerita rakyat maupun opini pribadi yang belum memiliki dasar akademis.

Dalam kesempatan itu, Muhammad Fadli turut menyinggung masih adanya perbedaan pandangan mengenai sejarah berdirinya Kota Medan. Ia menjelaskan bahwa hingga kini masih terdapat berbagai pendapat mengenai penetapan hari jadi Kota Medan, sehingga diperlukan kajian yang terus dilakukan dengan mengacu pada arsip, dokumen, dan bukti sejarah yang tersedia.

"Perbedaan pandangan itu sebaiknya dijawab melalui penelitian yang objektif. Sejarah harus dibangun berdasarkan data yang valid sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat maupun generasi mendatang," katanya.

Selain membahas sejarah Kota Medan, dialog tersebut juga mengangkat pentingnya menjaga warisan budaya Melayu Deli sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah kota. Bangunan bersejarah, kawasan cagar budaya, hingga peninggalan Kesultanan Deli dinilai menjadi identitas yang perlu terus dilestarikan.

Melalui program Resam Melayu, RRI Pro 4 Medan berupaya menghadirkan ruang diskusi mengenai sejarah dan kebudayaan Melayu agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya. Muhammad Fadli berharap generasi muda semakin tertarik mempelajari sejarah daerahnya sehingga identitas budaya Kota Medan tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....