Marsialapari, Tradisi Gotong Royong Tabagsel
- 25 Mei 2026 22:54 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Tradisi gotong royong telah lama menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kebiasaan saling membantu dalam berbagai aktivitas sosial, mulai dari hajatan, menjaga lingkungan, hingga bercocok tanam menjadi cerminan budaya kebersamaan yang diwariskan turun-temurun. Meski di beberapa wilayah perkotaan tradisi ini mulai memudar akibat pola hidup yang semakin individualis, semangat gotong royong masih tetap bertahan di sejumlah daerah, salah satunya melalui tradisi marsialapari di kawasan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), Sumatera Utara.
Marsialapari dikenal sebagai tradisi kerja sama dan tolong-menolong dalam kegiatan pertanian yang hidup di tengah masyarakat Mandailing maupun Angkola. Karena kedekatan budaya, bahasa, dan wilayah, tradisi ini kerap dianggap hanya milik Mandailing. Padahal, masyarakat Angkola di Tapanuli Selatan juga mengenal dan menjalankan praktik serupa sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka.
Wilayah Tabagsel sendiri meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padangsidimpuan, Padang Lawas Utara, dan Padang Lawas. Dalam kawasan inilah budaya marsialapari tumbuh sebagai sistem gotong royong masyarakat agraris.
Dilansir dari budaya-indonesia.org, secara etimologis, marsialapari berasal dari kata alap yang berarti panggil dan ari yang berarti hari, ditambah awalan mar yang bermakna saling. Istilah tersebut dapat dimaknai sebagai “saling menjemput hari”, yaitu kerja sama yang dilakukan dengan prinsip saling membantu dan timbal balik.
Dalam praktiknya, masyarakat secara sukarela membantu pekerjaan sawah atau kebun milik kerabat maupun tetangga yang membutuhkan bantuan. Sistem ini juga memiliki aturan tidak tertulis berupa keseimbangan hari kerja. Misalnya, apabila seseorang membantu selama beberapa hari di sawah orang lain, maka bantuan serupa akan diberikan kembali dengan jumlah hari yang sama.
Tradisi marsialapari biasanya dilakukan pada proses marsuaneme atau menanam padi serta manyabi atau memanen padi. Melalui kerja bersama yang melibatkan beberapa orang, pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan dan cepat selesai.
Meski bersifat sukarela, terdapat pembagian tugas berdasarkan kemampuan. Kaum laki-laki biasanya menangani pekerjaan berat seperti memperbaiki saluran air dan tanggul, sementara perempuan banyak terlibat pada proses penanaman dan panen.
Bagi masyarakat Mandailing dan Angkola, marsialapari bukan sekadar kerja bersama di sawah, tetapi juga cerminan nilai holong atau kasih sayang serta domu yang berarti persatuan. Nilai-nilai tersebut tumbuh dalam sistem sosial adat yang menempatkan kebersamaan dan saling membantu sebagai bagian penting kehidupan masyarakat.
Keberadaan marsialapari menunjukkan bahwa budaya gotong royong masih tetap hidup di tengah perubahan zaman. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial dan semangat kebersamaan merupakan warisan budaya yang patut dijaga bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....