Makna Bahan-bahan yang Digunakan pada Tradisi Mangupa
- 28 Apr 2026 11:06 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Tradisi Mangupa dalam masyarakat Batak Angkola, Mandailing, dan Tapanuli Selatan tidak hanya sebatas prosesi adat, tetapi juga sarat makna melalui bahan-bahan yang disajikan dalam upa-upa. Setiap isi dalam upa-upa mengandung pesan moral, doa, serta harapan bagi orang yang menerimanya.
Tokoh adat Tapanuli Selatan sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Drs. Parlaungan Ritongan, M.Hum, bahan upa-upa bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kehidupan lahir dan batin.
“Semua bahan upa-upa itu di samping memiliki makna simbolik, tentu kalau dikonsumsi juga memperbaiki gizi. Jadi manusia perlu diberi makanan lahir dan batin,” ujarnya kepada RRI.CO.ID, Senin, 27 April 2026.
Menurutnya, arti upa-upa adalah harapan agar orang yang menerimanya semakin sehat, memperoleh rezeki yang lebih baik, panjang umur, serta segala cita-cita dikabulkan Allah.
“Arti upa-upa itu adalah harapan setelah mereka diberi upa-upa makin sehat, rezeki makin baik, panjang umur, dan apa yang dicita-citakan dikabulkan Allah,” katanya.
Dalam penyampaiannya, doa tersebut kerap disertai pantun atau umpasa adat Batak Angkola, yakni:
Haporis di Simatorkis
Nadidurung di las niari
Horas hamu jana torkis
Olat nion tuginjang niari
Pantun tersebut berisi doa keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi orang yang menerima upa-upa.
Parlaungan menjelaskan, garam memiliki arti penting meski harganya murah. Namun tanpa garam, makanan terasa hambar. Karena itu, orang yang diberi upa-upa diharapkan memiliki sifat seperti garam, yakni kehadirannya selalu membawa manfaat dan dirindukan dalam setiap pertemuan.
Sementara nasi melambangkan perjalanan hidup yang panjang. Proses padi hingga menjadi nasi membutuhkan tahapan panjang dan penuh kerja keras. Hal itu diibaratkan sebagai perjalanan rumah tangga yang akan menghadapi berbagai cobaan, hambatan, dan ujian kehidupan.
“Ibarat beras menjadi nasi, kehidupan juga membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan perjuangan,” ujarnya.
Bahan lainnya adalah ikan jurung yang hidup di sungai deras dan bersih. Ikan tersebut dimaknai sebagai simbol kemampuan menghadapi tantangan hidup serta mencari rezeki yang halal dan bersih bagi keluarga.
| Baca juga: Melamar dan Meminang Sarat Makna Adat Melayu |
Telur ayam kampung juga menjadi bagian penting dalam upa-upa. Telur melambangkan kasih sayang orang tua kepada anak, sebagaimana induk ayam melindungi dan memberi makan anak-anaknya. Dalam prosesi adat, jumlah telur biasanya tiga butir sebagai lambang Dalihan Na Tolu, yakni kahanggi, anak boru, dan mora.
Udang memiliki makna kebersamaan. Saat menemukan makanan, udang dianggap memanggil kawan-kawannya untuk makan bersama. Selain itu, bentuk udang yang membungkuk setelah dimasak dimaknai sebagai harapan umur panjang hingga lanjut usia.
Kemudian kambing melambangkan solidaritas dan kebersamaan. Menurutnya, kambing tidak meninggalkan kelompoknya saat menghadapi ancaman. Sifat ini menjadi teladan agar keluarga memiliki rasa sosial tinggi.
“Kerbau juga melambangkan pengorbanan orang tua, karena induk kerbau akan berjuang melindungi anaknya dari bahaya,” katanya.
Tradisi Mangupa menjadi salah satu warisan budaya yang sarat nilai kebersamaan, penghormatan kepada orang tua, rasa syukur, serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Di tengah perkembangan zaman, masyarakat diharapkan terus menjaga tradisi ini sebagai identitas budaya Tapanuli Selatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....