Sosok Guru Sauti dan Lahirnya Tari Serampang Dua Belas

  • 26 Apr 2026 15:22 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan — Tari Serampang XII atau Serampang Dua Belas merupakan salah satu tari tradisional khas Sumatera Utara yang dikenal luas sebagai warisan budaya Melayu Deli. Tarian ini menitikberatkan pada perpaduan gerak Melayu Deli dengan dua belas ragam gerakan yang saling berkaitan dan membentuk sebuah alur cerita.

Dilansir dari serdangbedagaikab.go.id, Pencipta Tari Serampang XII adalah Guru Sauti, seorang seniman dan tokoh pendidikan yang memiliki jasa besar dalam perkembangan seni budaya di Sumatera Utara. Guru Sauti lahir pada tahun 1903 di Pantai Cermin, Sumatera Timur, wilayah yang kini masuk ke Kabupaten Serdang Bedagai. Ia merupakan putra dari pasangan Tateh dan Asmah.

Rani Agustina, S.E., yang merupakan cucu Guru Sauti, menjelaskan bahwa sang kakek tidak hanya dikenal sebagai pencipta tari, tetapi juga sebagai sosok pendidik yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat.

“Guru Sauti bukan hanya seniman, tetapi juga seorang pendidik yang sangat mencintai budaya Melayu,” ujar Rani Agustina.

Setelah menamatkan pendidikan di Normal School voor Inland Hulpoderwijers atau Sekolah Perguruan pada 1921 di Pematangsiantar, Guru Sauti ditugaskan menjadi guru sekolah dasar di Sunggal. Kariernya terus berkembang hingga dipercaya menjadi kepala sekolah Gouvernement Inlandschool di Simpang Tiga, Perbaungan.

Selanjutnya, Guru Sauti diangkat menjadi Penilik Sekolah yang diperbantukan pada Perwakilan Jawatan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Utara hingga memasuki masa pensiun. Dedikasi tersebut menunjukkan kiprahnya tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga dalam pelestarian seni dan budaya daerah.

Guru Sauti wafat pada Mei 1963 dalam usia 60 tahun dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Masjid Raya Perbaungan. Namun, warisan karyanya terus hidup melalui Tari Serampang Dua Belas yang masih dipelajari dan ditampilkan hingga saat ini.

Sebelum dikenal sebagai Tari Serampang Dua Belas, tarian ini awalnya bernama Tari Pulau Sari. Nama tersebut diambil dari judul lagu pengiringnya, yaitu Pulau Sari. Namun seiring perkembangan, nama itu dinilai kurang tepat karena tarian ini memiliki tempo cepat dan enerjik.

Biasanya, tarian yang diawali dengan kata “pulau” identik dengan irama rumba yang lebih lembut, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Karena itu, nama tari kemudian diubah menjadi Tari Serampang Dua Belas pada rentang tahun 1950 hingga 1960.

Menurut Rani Agustina, angka dua belas pada nama tarian tersebut merujuk pada dua belas ragam gerakan yang menjadi ciri khas tari tersebut, sekaligus menunjukkan dinamika gerak yang cepat dan penuh semangat.

Kini, Tari Serampang Dua Belas tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Melayu Deli, tetapi juga bagian penting dari kekayaan budaya nasional yang terus dijaga keberadaannya dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....