Modernisasi Zaman, Blangkon Tetap Eksis di Masyarakat

  • 10 Apr 2026 12:11 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Modernisasi dan gaya hidup serba praktis, salah satu benda tradisional yang tetap bertahan dan bahkan semakin sering muncul di berbagai acara keluarga yaitu blangkon. Blangkon dulunya dipakai oleh kaum pria bangsawan dan abdi dalem keraton, namun kini penggunaannya meluas ke masyarakat umum.

Bahkan di era modern, banyak keluarga Jawa yang masih mengenakan blangkon dalam acara penting seperti selametan, pernikahan, hingga reuni keluarga besar.

Dilansir dari wikipedia.org, blangkon adalah penutup kepala tradisional yang terbuat dari kain batik, biasanya bermotif parang atau kawung, yang dibentuk dan dijahit sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk kepala. Dalam tradisi Jawa, blangkon memiliki makna filosofis yang dalam melambangkan kesopanan, ketertiban, dan kehormatan seorang pria.

Penutup kepala khas laki-laki Jawa ini kini bukan sekadar aksesori, melainkan simbol kebanggaan dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah keluarga besar Hartono di kota Pematangsiantar. Menurut Hartono dalam setiap acara keluarga, baik besar maupun kecil, anggota keluarga laki-laki selalu mengenakan blangkon dengan bangga.

“Sudah jadi tradisi turun-temurun. Dari kakek, bapak, sampai cucu, semua pakai blangkon kalau ada acara. Rasanya belum lengkap kalau belum pakai,” ujarnya.

Ia menjelaskan pemakaian blangkon bukan hanya sekadar simbol budaya, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap leluhur.

“Blangkon ini bukan sekadar penutup kepala. Kami percaya, dengan memakainya, kami turut menjaga martabat keluarga dan nilai-nilai Jawa yang mulai hilang,” katanya.

Dalam catatan sejarah, blangkon memiliki berbagai bentuk dan gaya sesuai daerah asalnya. Ada blangkon gaya Yogyakarta yang memiliki “mondholan” (tonjolan di belakang kepala) melambangkan tekad dan kebijaksanaan, serta blangkon gaya Surakarta yang bagian belakangnya lebih rata, melambangkan kesederhanaan dan ketegasan. Kedua gaya ini tetap lestari dan sering dipakai dalam acara resmi, termasuk oleh pejabat dan tokoh masyarakat.

Menariknya, blangkon kini juga mengalami adaptasi modern. Sejumlah desainer muda di Yogyakarta dan Solo mulai memadukan blangkon dengan busana kasual dan formal, sehingga cocok digunakan oleh generasi milenial dan Gen Z. Menurut Ahmad Firdaus, seorang desainer muda asal Sleman, blangkon kini bisa menjadi bagian dari fashion modern tanpa kehilangan nilai tradisinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....