Lebaran Ketupat, Tradisi Syawalan Sarat Makna dan Filosofi

  • 27 Mar 2026 15:13 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Lebaran Ketupat merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri dan masih terus dilestarikan oleh masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Tradisi ini biasanya dirayakan sepekan setelah Idul Fitri atau pada 7 - 8 Syawal, dan dikenal juga dengan sebutan Syawalan. Dalam masyarakat Jawa, Lebaran Ketupat menjadi simbol kebersamaan, momen untuk mempererat tali silaturahmi, serta wujud rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Dilansir dari NU Online, sejarah Lebaran Ketupat memiliki kaitan erat dengan salah satu tokoh Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Masyarakat Jawa meyakini bahwa beliau adalah sosok yang pertama kali memperkenalkan ketupat sebagai bagian dari tradisi Islam di Nusantara. Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menyebutkan bahwa tradisi kupatan mulai berkembang pada masa Wali Songo dengan memanfaatkan budaya slametan yang telah lebih dulu hidup di tengah masyarakat. Tradisi ini kemudian dijadikan media dakwah untuk mengajarkan nilai-nilai Islam, seperti bersyukur kepada Allah SWT, bersedekah, serta mempererat silaturahmi di hari raya.

Secara filosofis, ketupat memiliki makna yang sangat dalam. Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Melalui tradisi ini, umat Muslim diharapkan saling memaafkan dan melupakan kesalahan satu sama lain. Bungkus ketupat yang terbuat dari janur kuning melambangkan penolak bala, sementara bentuk segi empatnya mencerminkan prinsip “kiblat papat lima pancer,” yang bermakna bahwa ke mana pun manusia pergi, pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.

Anyaman ketupat yang rumit juga menggambarkan berbagai kesalahan manusia, sedangkan warna putih isi ketupat setelah dibelah melambangkan kesucian dan kebersihan hati setelah memohon ampun. Beras yang menjadi isi ketupat pun dimaknai sebagai simbol kemakmuran setelah hari raya. Pada masa lalu, ketupat bahkan dipercaya sebagai penolak bala dengan cara digantung di atas pintu rumah bersama pisang hingga kering, meski tradisi ini kini sudah mulai jarang ditemukan.

Dalam penyajiannya, ketupat biasanya disantap bersama opor ayam dan sambal goreng. Opor ayam yang menggunakan santan memiliki makna tersendiri, karena dalam bahasa Jawa “santen” diartikan sebagai “pangapunten” atau permohonan maaf. Kedekatan antara kupat dan santen ini juga tercermin dalam pantun khas Idul Fitri: “Mangan kupat nganggo santen, menawi lepat nyuwun pangapunten,” yang berarti makan ketupat dengan santan, jika ada kesalahan mohon dimaafkan.

Dengan berbagai makna yang terkandung di dalamnya, Lebaran Ketupat tidak sekadar menjadi tradisi kuliner, tetapi juga sarana untuk mempererat kebersamaan, memperkuat nilai spiritual, serta menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....