Budaya Hemat saat Puasa Tetap Digaungkan meski Banjir Promo Produk
- 19 Feb 2026 10:30 WIB
- Medan
RRI.CO.ID,Medan - Memasuki bulan suci Ramadan, pusat perbelanjaan dan platform daring berlomba-lomba menawarkan diskon besar, paket bundling, hingga promo “flash sale” untuk menarik konsumen. Namun di tengah gempuran promosi tersebut, budaya hemat saat puasa justru semakin digaungkan oleh berbagai kalangan masyarakat.
Ramadan identik dengan peningkatan konsumsi, mulai dari kebutuhan bahan makanan, busana muslim, hingga perlengkapan menyambut Hari Raya Idulfitri. Strategi pemasaran yang masif sering kali memicu belanja impulsif, terutama menjelang waktu berbuka puasa. Meski demikian, banyak keluarga kini mulai lebih selektif dalam memanfaatkan promo.
“Pakai cara mengganti yang mahal dengan yang murah, intinya sesuai kebutuhan, promo boleh dimanfaatkan tapi tetap harus sesuai kebutuhan, bukan keinginan,” ujar Chintya dalam acara Markobar Pro 4 RRI Medan pada Kamis ( 19/02/2026) di Medan. Ia mengaku kini selalu membuat daftar belanja mingguan agar tidak tergoda membeli produk yang sebenarnya tidak diperlukan.
Sementara itu pendengar lainnya Abdullah warga Bakti Luhur menilai fenomena diskon besar selama Ramadan memang dapat membantu masyarakat berhemat jika dimanfaatkan secara bijak. Namun tanpa perencanaan promo justru berpotensi meningkatkan pengeluaran. Oleh karena itu, perencanaan anggaran, membandingkan harga, serta membatasi frekuensi belanja menjadi kunci utama.
"Kurang tertarik dengan berbagai promo produk yang sering ditawarkan oleh toko-toko besar atau pusat perbelanjaan modern. Bagi saya promo sering kali membuat orang tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, saya lebih memilih berbelanja di warung-warung kecil dekat rumah. Selain lebih praktis, harga di warung kecil tetap terjangkau tanpa harus menunggu diskon tertentu, katanya melalui sambungan telepon Programa 4 RRI Medan.
Di sejumlah komunitas, kampanye belanja cerdas juga mulai digalakkan. Edukasi literasi keuangan disampaikan melalui media sosial dan kegiatan masjid, mengingat Ramadan bukan sekadar bulan konsumsi, melainkan bulan pengendalian diri.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar tidak berlebihan dalam membeli makanan berbuka. Tren membeli aneka takjil dalam jumlah besar kerap berujung pada pemborosan. Dengan berbelanja secukupnya, dana yang tersisa dapat dialokasikan untuk sedekah dan membantu sesama.
Budaya hemat saat puasa dinilai sejalan dengan nilai spiritual Ramadan yang menekankan kesederhanaan dan kepedulian sosial. Di tengah derasnya arus promo produk, pengendalian diri menjadi bentuk nyata ibadah sekaligus langkah cerdas menjaga stabilitas keuangan keluarga.
Dengan sikap bijak dan terencana, masyarakat dapat tetap menikmati berbagai penawaran menarik tanpa kehilangan esensi Ramadan sebagai bulan refleksi dan penguatan karakter.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....