Novel Fiksi Mencerminkan Realitas Kehidupan Manusia
- 28 Sep 2026 16:27 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Talkshow Santai Siang PRO 2 FM 92,4 MHz. RRI Medan, Senin ( 29/9/2026 ) pagi berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Budaya USU, tema yang diangkat cukup menarik, yakni "Fiksi, Tapi Kok Nyata?" yang membahas kedekatan antara karya fiksi dengan kehidupan sehari-hari, menghadirkan narasumber Emma Marsella – Ketua Program Studi Sastra Indonesia FIB USU, Muhammad Nashih Huddin Ubaidillah – Dosen Program Studi Sastra Arab FIB USU, dan Citra Gandhini Putri – Novelis. Banyak pembaca yang merasa cerita dalam novel sangat mirip dengan pengalaman pribadi mereka, sehingga muncul pertanyaan apakah fiksi hanyalah imajinasi atau justru cerminan realitas.
“ Karya fiksi tidak pernah lahir dari ruang hampa. Seorang penulis selalu mengambil inspirasi dari lingkungan sosial, budaya, dan pengalaman yang ia lihat dan rasakan. Menurutnya, novel adalah representasi kehidupan yang dikemas dengan bahasa estetik. Walaupun tokoh dan alur bersifat rekaan, nilai, konflik, dan emosi di dalamnya sangat nyata dan dekat dengan pembaca. Oleh karena itu, sastra memiliki fungsi sebagai dokumentasi sosial pada zamannya, “ ungkap Emma.
Sedangkan Muhammad Nashih mengatakan bahwa perspektif tentang sastra Arab dan universalitas cerita. Ia menilai bahwa fiksi sering kali menjadi media kritik sosial yang halus. Penulis menggunakan cerita untuk menyampaikan kegelisahan, ketimpangan, dan harapan yang sulit diungkapkan secara langsung. Dalam tradisi sastra Arab maupun Indonesia, banyak novel yang awalnya dianggap fiksi, namun kemudian terbukti memprediksi atau menggambarkan realitas yang terjadi bertahun-tahun kemudian.
Citra Gandhini Putri selaku Novelis berbagi pengalaman kreatifnya dalam menulis. Ia mengaku bahwa ide-ide novelnya banyak berasal dari curhatan teman, kejadian di media sosial, hingga pengamatan di ruang publik. Menurutnya, penulis yang baik harus peka terhadap realitas. Ia menegaskan bahwa pembaca merasa terhubung dengan novel karena mereka menemukan diri mereka di dalam cerita tersebut. Fiksi yang baik adalah fiksi yang membuat pembaca berkata "ini kisahku".
Ketiga narasumber sepakat bahwa batas antara fiksi dan nyata sebenarnya tipis. Sastra hadir untuk membantu manusia memahami kehidupan dengan cara yang lebih imajinatif dan empatik. Melalui novel, pembaca diajak untuk merenung, belajar, dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Diakhir talkshow narasumber memberikan kesimpulan bahwa novel bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kehidupan yang memperkaya wawasan dan empati. Program Talkshow ini menegaskan bahwa sastra tetap relevan di era digital sebagai jembatan antara imajinasi dan realitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....