Kedelai Impor Mengancam Kemandirian Pangan Nasional
- 29 Sep 2026 20:48 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Dialog Interakti Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Rabu ( 23/9/2026 ) pagi, dengan menghadirkan narasumber Dr. Ir. Muhammad Rizwan, MP. (Dosen Fakultas Pertanian UISU) dan Kusnan (Ketua Departemen Agroekologi & Kawasan Daulat Pangan SPI), membahas dilema ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor di tengah upaya mewujudkan kemandirian pangan. Kebutuhan kedelai nasional yang tinggi untuk bahan baku tahu, tempe, dan pakan ternak belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Kondisi ini membuat Indonesia terus mengandalkan impor, padahal petani lokal memiliki potensi besar.
“ Faktor teknis yang menyebabkan rendahnya produktivitas kedelai lokal, luas lahan kedelai terus menyusut karena petani beralih ke komoditas yang lebih menguntungkan seperti jagung dan sawit. Selain itu, penggunaan benih unggul masih terbatas dan teknologi budidaya belum merata. Rizwan menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan jaminan harga, subsidi benih, dan penyuluhan intensif. Ia menilai jika dikelola dengan serius, Sumatera Utara memiliki agroklimat yang cocok untuk pengembangan kedelai secara berkelanjutan dan mampu menekan impor, “ jelas Rizwan.
Sedangkan Kusnan mengatakan bahwa aspek kebijakan dan keberpihakan negara terhadap petani. Ia menilai liberalisasi perdagangan dan ketergantungan impor telah mematikan semangat petani kedelai. Harga kedelai impor yang lebih murah membuat petani lokal tidak bisa bersaing. SPI mendorong pemerintah untuk membatasi impor secara bertahap, memperkuat kelembagaan petani, dan membangun sistem tata niaga yang adil. Menurutnya, kemandirian pangan bukan hanya soal stok, tetapi soal kedaulatan petani atas benih, lahan, dan pasar.
Kedua narasumber sepakat bahwa solusi tidak bisa parsial. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan organisasi tani. Pemerintah harus menetapkan peta jalan kemandirian kedelai dengan target yang jelas, mulai dari hulu hingga hilir. Perlindungan harga dasar, akses pupuk, dan kepastian pasar bagi petani lokal menjadi kunci agar mereka mau kembali menanam kedelai.
Diakhir dialog narasumber memberikan kesimpulan bahwa ketergantungan pada kedelai impor adalah ancaman nyata bagi kedaulatan pangan Indonesia. Jika tidak segera diatasi, pengrajin tahu tempe akan terus rentan terhadap fluktuasi harga dunia. Program Dialog Aspirasi Sumut ini menegaskan bahwa kemandirian pangan harus dimulai dari keberpihakan nyata kepada petani lokal dan penguatan produksi dalam negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....