Pandangan Empat Mazhab, Bayi Tabung dan Kloning

  • 30 Sep 2026 10:02 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Dalam Islam, perkembangan teknologi tidak serta merta ditolak, namun setiap metode reproduksi perlu dikaji berdasarkan prinsip-prinsip syariat. Hal ini dikatakan Hendra Zulfran, dalam acara siaran Mutiara Pagi RRI Medan, edisi Sabtu, 12 September 2026.

Berkaitan dengan nasab, perkawinan, kehormatan manusia, serta kemungkinan tercampurnya keturunan katanya,

persoalan bayi tabung dan kloning menjadi salah satu pembahasan penting dalam kajian fiqih kontemporer, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang reproduksi.

"Dalam persoalan bayi tabung, perhatian utama ulama, terletak pada sumber sperma dan ovum serta siapa yang mengandung dan melahirkan. Proses yang melibatkan sperma suami dan ovum istri, dalam ikatan pernikahan, kemudian embrio ditanamkan ke rahim istri, memiliki pembahasan fiqih yang berbeda dengan praktik yang melibatkan donor sperma, donor ovum, atau rahim perempuan lain, "kata Hendra.

Sementara itu, kloning manusia sebutnya, menghadirkan persoalan fiqih yang lebih kompleks. Teknologi kloning menyangkut persoalan penciptaan, identitas, nasab, hubungan keluarga, dan berbagai konsekuensi hukum yang belum dikenal dalam fiqih klasik.

Hendra Zulfran menerangkan, perbedaan pandangan dalam masalah kontemporer perlu disikapi dengan ilmu dan kehati-hatian. Empat mazhab memiliki metodologi istinbat hukum atau upaya maksimal seorang ahli hukum islam, untuk menggali dan menetapkan suatu hukum syariat dari sumber-sumber utamanya adalah, Alqur'an dan Hadist yang menjadi dasar dalam memahami persoalan baru, sementara penerapan teknologi modern membutuhkan penjelasan ilmiah yang akurat, agar hukum yang diberikan tidak terlepas dari fakta medis.

Perkembangan teknologi reproduksi ungkapnya, tetap ditempatkan dalam koridor syariat. Kemajuan ilmu pengetahuan harus mampu memberikan kemaslahatan bagi manusia tanpa mengabaikan ketentuan agama, khususnya dalam menjaga keturunan dan kehormatan keluarga.

"Setiap persoalan, baru membutuhkan pemahaman yang mendalam, sehingga umat dapat menyikapi perkembangan teknologi dengan bijak, berlandaskan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam, "ungkap Hendra Zulfran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....