Generasi Muda Memperkuat Nasionalisme di Era Globalisasi
- 17 Agt 2026 19:15 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Kamis ( 13/8/2026 ) pagi, mengangkat tema penting mengenai penguatan jiwa nasionalisme di era globalisasi dengan tajuk "Membangun Jiwa Nasionalisme di Era Globalisasi". Dialog ini membahas bagaimana globalisasi membawa dampak besar terhadap identitas, budaya, dan cara pandang generasi muda Indonesia, dengan menghadirkan narasumber Akhyar Adlani Siregar, S.HI. (Wakil Ketua KNPI Sumut Bid. Pemuda & PGM) dan Dr. Roni Pradana, S.Pd.I., S.H., M.H. (Dir. Eksekutif Lembaga Kajian & Advokasi Hukum, Pendidikan, Ekonomi, Ekologi). Di satu sisi globalisasi membuka akses informasi dan interaksi lintas budaya yang cepat, namun di sisi lain juga menjadi tantangan karena dapat membuat anak muda kurang akrab dengan bangsanya sendiri dan tidak cukup bangga dengan negaranya.
“ Pembahasan menyoroti bahwa nasionalisme saat ini tidak bisa lagi ditanamkan dengan pendekatan otoritatif seperti sekadar upacara atau hafalan. Nasionalisme masa kini harus tumbuh melalui pemahaman, pengalaman, dan partisipasi aktif warga negara. Menjadi nasionalis bukan berarti menolak globalisasi, melainkan memanfaatkannya untuk memperkuat identitas dan posisi bangsa di kancah global. Di tengah gempuran globalisasi, pemerintahan dan masyarakat dituntut memperhatikan prinsip kemanusiaan dan keadilan, agar tidak hanya fokus pada kepentingan dalam negeri tapi juga tidak mengabaikan pergulatan dunia, “ ujar Akhyar.
Lebih lanjut Akhyar mengatakan bahwa peran pemuda menjadi kunci dalam menjaga semangat kebangsaan. Generasi muda adalah aktor utama dinamika globalisasi karena paling cepat terhubung dengan dunia luar dan paling rentan kehilangan orientasi kebangsaan. Namun justru mereka juga harapan terbesar bangsa. Penguatan kapasitas SDM tidak hanya mencakup pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga penguatan karakter bangsa yang berlandaskan wawasan kebangsaan dan semangat nasionalisme. Untuk itu diperlukan ruang ekspresi yang terbuka, pendidikan karakter yang kontekstual, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial dan kebangsaan agar kesadaran nasionalisme bangkit.
Sementara itu Dr. Roni Pradana yang juga menjadi narasumber menekankan pentingnya keseimbangan antara agenda kebangsaan dan agenda internasional. Sebagaimana Soekarno ungkapkan, nasionalisme dan internasionalisme tidak bisa tumbuh jika tidak ada keseimbangan. Nasionalisme juga tidak bisa lepas dari semangat kemanusiaan. Belum disebut nasionalis jika belum menunjukkan jiwa kemanusiaan. Di era global, pengaruh positif yang sesuai nilai-nilai kemanusiaan perlu diterima, sementara pengaruh negatif yang merendahkan martabat harus disaring. Oleh karena itu diperlukan pemimpin dan pemuda yang mampu menentukan arah dengan mempertimbangkan keselarasan kepentingan nasional dan kemaslahatan global.
Diakhir dialog narasumber menegaskan bahwa membangun jiwa nasionalisme di era globalisasi membutuhkan pendekatan adaptif dan berkelanjutan. Bangsa perlu menciptakan rasa memiliki, tanggung jawab bersama, dan semangat kolektif untuk menjaga tanah air. Caranya dengan memfasilitasi generasi muda mencintai bangsa bukan dengan paksaan, tetapi melalui proses yang menyenangkan dan bermakna, misalnya platform digital budaya lokal, gerakan kreatif berbasis kearifan lokal, dan integrasi nilai Pancasila dalam aktivitas sehari-hari. Dengan begitu, Sumatera Utara dan Indonesia dapat mencetak SDM yang unggul, berdaya saing global, tetapi tetap berakar pada identitas dan nilai kebangsaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....