Sinergi Hukum dan Ketahanan Psikososial dalam Menjaga Kedaulatan Bangsa
- 27 Jul 2026 17:05 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan 94,3 MHz. Senin ( 27/7/2026 ) pagi, mengupas tuntas salah satu isu strategis nasional yang semakin kompleks di era modern, yaitu dalam tajuk "Ancaman Non Militer Tantangan Nyata Bagi Masa Depan Negara". Diskusi interaktif ini menghadirkan dua pakar yang membedah spektrum ancaman non-militer dari sudut pandang hukum dan psikologi sosial, yaitu Dr. Panca Sarjana Putra, S.H., M.H. (Dosen/Ahli Hukum Pidana FH UISU) dan Tarmidi, S.Psi., M.Psi., Ph.D. (Psikolog USU). Fokus utama dialog ini adalah mengidentifikasi berbagai wujud ancaman nirmiliter seperti kejahatan siber, peredaran narkoba masif, perang informasi (cyber and information warfare), perusakan moral generasi muda, hingga krisis ketahanan pangan dan ekonomi yang dapat merusak kedaulatan serta keutuhan bangsa tanpa menggunakan kekuatan senjata fisik.
Dari perspektif hukum pidana dan penegakan regulasi, Dr. Panca Sarjana Putra menjelaskan bahwa ancaman non-militer sering kali bekerja secara terselubung dan memanfaatkan celah hukum serta lemahnya pengawasan di tingkat lokal maupun nasional. Sebagai ahli hukum pidana, ia menekankan pentingnya pembaharuan instrumen hukum yang adatif terhadap perkembangan teknologi dan modus kejahatan transnasional, seperti penipuan siber, tindak pidana pencucian uang, dan kejahatan narkotika. Ia menggarisbawahi bahwa penegakan hukum pidana yang tegas dan tanpa pandang bulu terhadap para pelaku kejahatan non-militer merupakan instrumen vital untuk menjaga ketertiban umum dan memberikan perlindungan hukum bagi warga negara dari penetrasi asing maupun elemen perusak internal.
Sementara itu, dari sudut pandang psikologi sosial dan ketahanan emosional masyarakat, Tarmidi, S.Psi., M.Psi., Ph.D. memaparkan bahwa sasaran utama dari ancaman non-militer adalah pola pikir, mentalitas, dan imunitas psikologis masyarakat. Sebagai psikolog, ia menyoroti maraknya penyebaran disinformasi, adu domba berbasis SARA, serta maraknya gaya hidup hedonis dan adiktif yang secara perlahan dapat mengikis nilai-nilai nasionalisme, solidaritas sosial, serta karakter bangsa pada generasi muda. Ia menekankan bahwa membentengi negara dari ancaman ini memerlukan penguatan ketahanan keluarga, peningkatan literasi kritis di kalangan pelajar dan mahasiswa, serta intervensi psikososial yang berkesinambungan untuk menciptakan masyarakat yang resilien, tidak mudah terprovokasi, dan memiliki kesadaran bela negara yang kuat.
Diakhir dialog narasumber menegaskan bahwa menghadapi ancaman non-militer tidak bisa hanya mengandalkan institusi militer atau pertahanan konvensional semata, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat (total defence approach). Kepastian hukum dan ketegasan sanksi pidana yang dipaparkan oleh Dr. Panca harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan mentalitas publik yang didorong oleh Tarmidi. Dengan ketahanan hukum yang solid, kesadaran psikososial yang tinggi, serta kolaborasi yang erat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Indonesia optimistis mampu menjaga kedaulatan dan menyongsong masa depan bangsa yang tangguh di tengah arus globalisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....