Banyak Anak, Banyak Rezeki? Ungkapan Lama Dinilai Tak Lagi Sepenuhnya Relevan
- 27 Jul 2026 08:55 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Dahulu, ungkapan "banyak anak banyak rezeki" menjadi pandangan yang cukup kuat di tengah masyarakat Indonesia. Pada masa itu, banyak keluarga menganggap kehadiran banyak anak sebagai berkah sekaligus aset keluarga. Anak-anak turut membantu pekerjaan orang tua, terutama di sektor pertanian, perkebunan, maupun usaha keluarga, sehingga diyakini dapat mendukung perekonomian rumah tangga.
Namun, seiring perkembangan zaman, pandangan tersebut mulai bergeser. Meningkatnya biaya hidup, pendidikan, layanan kesehatan, serta kebutuhan sehari-hari membuat banyak keluarga kini lebih mempertimbangkan jumlah anak sesuai dengan kemampuan ekonomi dan kesiapan dalam memberikan pengasuhan yang berkualitas.
Sejumlah masyarakat menilai bahwa ungkapan tersebut tidak lagi sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini. Menurut Al warga Kapten Muslim Medan memiliki sedikit anak justru memungkinkan orang tua memberikan perhatian, pendidikan, dan kebutuhan yang lebih optimal.
" Kurang relevan dengan zaman sekarang ,tergantung kemampuan ekonomi keluarga ,karena harus berfikir panjang tentang pendidikan dan masa depan anak ,semakin banyak anak tentunya banyak yang harus menjadi tanggung jawab orang tua terhadap anaknya",ucapnya pada Sabtu, 25 Juli 2026.
Pendapat serupa disampaikan Ratni watga Martubung Medan. Menurutnya, tantangan ekonomi saat ini membuat banyak pasangan memilih memiliki dua anak atau bahkan satu anak agar kondisi keuangan keluarga tetap stabil.
"Dulu mungkin masih cocok karena biaya hidup belum setinggi sekarang. Sekarang semua serba mahal, jadi perencanaan keluarga sangat penting, saya sendiri memiliki 6 anak dan bahagia karena semuanya memperhatikan saya", katanya.
Meski demikian, sebagian masyarakat tetap meyakini bahwa setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Mereka berpendapat bahwa ungkapan tersebut lebih tepat dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Tuhan, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan perencanaan keluarga.
Makna ungkapan "banyak anak banyak rezeki" sebaiknya dipahami secara bijaksana. Rezeki tidak hanya diukur dari jumlah anak, tetapi juga dari kemampuan keluarga menciptakan kehidupan yang sehat, sejahtera, serta memberikan pendidikan dan masa depan yang baik bagi setiap anak.
Di era modern, masyarakat semakin menyadari bahwa kualitas pengasuhan, pendidikan, dan kesejahteraan keluarga menjadi faktor utama dalam membangun generasi yang unggul. Karena itu, banyak pasangan kini lebih mengedepankan perencanaan keluarga yang matang dibanding sekadar berpegang pada ungkapan yang diwariskan secara turun-temurun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....