Strategi Sinergis Menghentikan Eksploitasi Masa Depan Generasi Muda

  • 27 Jul 2026 08:56 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Kamis ( 23/7/2026 ) pagi, mengangkat isu krusial mengenai perlindungan dan kesejahteraan anak dalam tajuk " Hentikan Eksploitasi Bangun Masa Depan Anak Indonesia ". Diskusi interaktif ini menghadirkan dua narasumber berkompeten yang membedah maraknya eksploitasi anak dari sudut pandang perlindungan hak anak, kebijakan sosial, serta dinamika media digital, yaitu Prof. Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si. (Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) dan Corry Novrica AP Sinaga, S.Sos., MA. (Akademisi & Pengamat Media Sosial). Fokus utama dialog ini adalah menguliti berbagai bentuk eksploitasi terhadap anak—mulai dari eksploitasi ekonomi, pekerja anak, hingga fenomena eksploitasi konten digital di media sosial—yang secara nyata merenggut hak-hak dasar anak untuk tumbuh, berkembang, dan mendapatkan perlindungan yang layak demi masa depan bangsa.

Dari perspektif perlindungan anak dan psikologi perkembangan, Seto Mulyadi memaparkan bahwa eksploitasi anak dalam bentuk apa pun merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dan bentuk pengabaian terhadap regulasi perlindungan anak. Sebagai Ketua Umum LPAI, ia menegaskan bahwa setiap anak berhak atas lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang untuk mengoptimalkan potensi diri mereka tanpa dibebani tanggung jawab ekonomi atau tekanan fisik dan mental dari orang dewasa. Ia menyoroti pentingnya pembentukan Seksi Perlindungan Anak RT/RW (SPARTA) atau gerakan perlindungan berbasis masyarakat di tingkat akar rumput untuk mendeteksi dini serta mencegah praktik kekerasan dan eksploitasi anak. Kak Seto juga mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum di Sumatera Utara untuk bertindak tegas terhadap pembiaran eksploitasi anak, serta mengimbau para orang tua agar kembali pada peran utamanya sebagai pelindung dan pendidik anak, bukan menjadikan anak sebagai penopang ekonomi keluarga.

Sementara itu, dari sudut pandang kajian media dan realitas sosial digital, Corry Novrica memberikan analisis mendalam mengenai bentuk eksploitasi gaya baru yang marak terjadi di era digital, seperti fenomena sharenting, komersialisasi anak sebagai content creator, hingga pemanfaatan anak demi meraih popularitas di media sosial. Sebagai akademisi dan pengamat media sosial, ia menjelaskan bahwa banyak orang tua atau pihak industri kreatif secara tidak sadar memaparkan privasi serta mengeksploitasi kepolosan anak demi keuntungan materiil (monetisasi) tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan keamanan digital anak. Ia menekankan pentingnya edukasi literasi digital yang masif bagi para orang tua dan masyarakat, serta perlunya regulasi yang ketat mengenai batasan pelibatan anak dalam pembuatan konten komersial untuk memastikan hak privasi dan perlindungan anak di dunia maya tetap terjaga.

Diakhir dialog narasumber menegaskan bahwa upaya menghentikan eksploitasi anak dan membangun masa depan generasi penerus Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang solid dan berkelanjutan. Penegakan hukum yang tegas dari aparat, komitmen regulasi dari pemerintah, pengawasan independen dari lembaga perlindungan anak seperti LPAI, serta kesadaran etis dari masyarakat dan orang tua di era digital menjadi kunci utama. Dengan menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang aman, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk eksploitasi—baik di dunia nyata maupun dunia digital—diharapkan anak-anak di Sumatera Utara dan seluruh Indonesia dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap memimpin masa depan bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....