Motivasi Quantum Nabi Sulaiman dalam Kuasa dan Tahta
- 21 Jul 2026 20:05 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Kekuasaan dan jabatan merupakan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Seseorang pemimpin harus menjadikan iman, syukur, keadilan, dan kerendahan hati sebagai landasan dalam menjalankan amanah. Pesan ini disampaikan Fadhli Sudiro dalam kajian Mutiara Pagi Pro 1 RRI Medan, edisi Rabu, 15 Juli 2026, dengan judul: Motivasi Quantum Nabi Sulaiman Alaihissalam dalam Kuasa dan Takhta. Judul ini sejalan dengan rangkaian kajian motivasi quantum para nabi sebelumnya yang disampaikan dalam program tersebut.
Dalam kajiannya, Fadhli Sudiro menjelaskan, Nabi Sulaiman Alaihissalam merupakan teladan pemimpin yang diberi kekuasaan luar biasa oleh Allah SWT.
"Nabi Sulaiman menguasai kerajaan yang luas, memahami bahasa hewan, serta ditundukkan angin dan bangsa jin, akan tetapi seluruh keistimewaan ini tidak menjadikan beliau sombong. Sebaliknya, Nabi Sulaiman senantiasa bersyukur dan mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT," ucapnya.
Kata Fadhli Sudiro, Motivasi quantum Nabi Sulaiman adalah menjadikan kekuasaan sebagai jalan ibadah, bukan sebagai sarana kesombongan.
"Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menegakkan keadilan dan menebarkan kemaslahatan," katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan sejati bukan diukur dari besarnya jabatan atau melimpahnya harta, melainkan dari kemampuan menjaga amanah, berlaku adil, serta tetap rendah hati. Sikap syukur dan tawaduk Nabi Sulaiman sebutnya, menjadi inspirasi bagi setiap muslim, agar tidak terlena oleh kenikmatan dunia.
| Baca juga: Hikmah Kurban Membentuk Keluarga Bertaqwa |
Pada sesi interaktif, seorang pendengar bertanya bagaimana menjaga diri, agar tidak sombong ketika memperoleh jabatan atau kesuksesan. Ustadz Fadhli Sudiro menjawab, setiap nikmat harus disadari sebagai titipan Allah SWT yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Oleh karena itu, memperbanyak syukur, memperkuat ibadah, dan melayani masyarakat dengan tulus menjadi benteng dari sifat angkuh.
Pendengar lainnya menanyakan bagaimana menerapkan kepemimpinan Nabi Sulaiman dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, setiap orang adalah pemimpin, baik dalam keluarga, lingkungan kerja maupun masyarakat. Kepemimpinan yang baik diwujudkan melalui kejujuran, keadilan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
Melalui kajian ini, masyarakat diajak menjadikan Nabi Sulaiman Alaihissalam sebagai inspirasi dalam memandang kekuasaan dan jabatan sebagai amanah dari Allah SWT. Dengan memperkuat iman, rasa syukur, integritas, dan kepedulian terhadap sesama, diharapkan lahir pribadi-pribadi yang mampu memimpin dengan adil serta membawa keberkahan bagi lingkungan dan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....