Bidan Berperan dalam Mewujudkan Keluarga Sehat

  • 29 Jun 2026 19:11 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Rabu ( 24/6/2026 ) pagi, mengangkat topik penting mengenai peran strategis bidan dalam mewujudkan keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera. Mengingat angka kematian ibu dan anak di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara, masih memerlukan perhatian yang serius, dialog ini menghadirkan dua perspektif utama untuk mengupas tantangan serta aksi nyata yang dibutuhkan oleh para bidan di lapangan.

Dari sudut pandang akademisi dan profesi, Dr. Herna Rinayanti Manurung, S.Keb, Bdn, M.Kes (Ketua IBI Ranting STIKes Mitra Husada Medan) menjelaskan bahwa dalam rangka memperingati Hari Bidan Nasional ke-75, pihak akademisi terus memperkuat kesiapan para mahasiswa kebidanan. Komitmen ini diwujudkan melalui program pengabdian masyarakat nyata seperti edukasi di Kecamatan Medan Johor dan pengukuhan serta pelatihan mitigasi bencana maternal. Berdasarkan UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023, bidan memiliki enam peran penting, termasuk sebagai pengelola, pendidik, dan penggerak pemberdayaan masyarakat untuk mengawal kelangsungan hidup ibu dan anak melalui interprofessional collaboration (IPC). Menanggapi keluhan klasik mengenai mahalnya biaya perizinan praktik mandiri, Dr. Herna menyarankan agar para bidan tidak hanya berfokus pada hambatan finansial, melainkan pada nilai kebermanfaatan dan peningkatan kapasitas (upgrade skill) melalui pemanfaatan berbagai beasiswa atau hibah dari pemerintah.

Sedangkan Sony Efriadi, S.K.M., M.Kes (Praktisi Kesehatan) menegaskan bahwa bidan tetap menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di desa maupun puskesmas, terutama dalam menjalankan program Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan mendukung program cek kesehatan gratis dari pemerintah. Namun, Sony menyoroti adanya pergeseran mindset pada generasi bidan muda (Milenial dan Gen Z) yang dinilai masih kekurangan soft skill dalam hal keramahan, pendekatan emosional, dan respons terhadap pasien. Selain masalah internal tersebut, bidan di daerah sering kali dihadapkan pada beban kerja ganda (double job) sebagai administrator atau bendahara tanpa didukung oleh pelatihan teknologi yang memadai setelah lulus kuliah. Sony juga mengkritisi masalah kesejahteraan tenaga sukarela yang menerima insentif sangat minim dan mengusulkan agar perizinan praktik mandiri diambil alih sepenuhnya secara efisien oleh pemerintah demi menghindari pungutan liar serta mendorong pemerataan distribusi bidan di daerah-daerah terpencil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....