Muharram Momentum Berbagi dan Memuliakan Anak Yatim
- 16 Jun 2026 20:57 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Bulan Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun baru Islam, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial terhadap anak yatim. Hal itu disampaikan Hj. Nunung Ismiyanti, S.Ag., MA dalam program Kajian Mutiara Sore RRI Pro 4 FM Medan yang mengangkat tema “Muharram Momentum Berbagi dengan Anak Yatim.” pada Selasa 16 Juni 2026
Dalam kajian tersebut, Nunung menjelaskan bahwa Muharram merupakan salah satu dari empat bulan suci dalam Islam yang memiliki keutamaan tersendiri. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh karena Allah SWT melipatgandakan pahala dari setiap kebaikan yang dilakukan.
Ia menuturkan, masyarakat Indonesia mengenal tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura dengan sebutan “Lebaran Anak Yatim”. Meski bukan hari raya keagamaan resmi seperti Idulfitri maupun Iduladha, istilah tersebut lahir dari tradisi masyarakat Muslim yang menjadikan momentum tersebut sebagai waktu untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim.
“Istilah ini adalah sebuah ungkapan metafora atau tradisi baik yang tumbuh di masyarakat Muslim yang bersumber dari anjuran agama,” ujar Nunung dalam kajiannya.
Menurutnya, semangat memuliakan anak yatim pada bulan Muharram berangkat dari berbagai ajaran Islam yang mendorong umat untuk menyayangi dan memperhatikan kehidupan mereka. Karena itu, pada momentum tersebut banyak masyarakat yang memberikan santunan, makanan, pakaian, maupun bantuan lainnya kepada anak yatim agar mereka dapat merasakan kebahagiaan bersama.
Nunung menegaskan bahwa kepedulian terhadap anak yatim tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Muharram, katanya, harus menjadi pengingat untuk membangun kepedulian sosial yang berkelanjutan sepanjang tahun.
“Bukan sekadar ritual setahun sekali, melainkan tindakan dan perbuatan serta kepedulian kita kepada anak-anak yatim yang insya Allah berkesinambungan dan terus menerus,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mengusap kepala anak yatim memiliki makna lahiriah dan maknawi. Secara lahiriah, tindakan tersebut merupakan bentuk kasih sayang kepada anak-anak yang kehilangan figur ayah. Sementara secara maknawi, mengusap kepala anak yatim berarti memperhatikan masa depan mereka, termasuk kebutuhan pangan, sandang, tempat tinggal, hingga pendidikan.
Nunung juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang menggambarkan kedekatan orang yang mengasuh dan menyantuni anak yatim dengan Nabi di surga. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang-orang yang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak yatim.
Menutup kajiannya, Nunung mengajak masyarakat menjadikan Muharram sebagai momentum memperkuat kepekaan sosial terhadap anak yatim, baik di lingkungan sekitar maupun di berbagai daerah di Sumatera Utara. Ia berharap kebahagiaan yang diberikan kepada anak-anak yatim dapat menjadi jalan turunnya keberkahan, kedamaian, dan keselamatan bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....