Hamba yang sukses dan bermanfaat
- 15 Jun 2026 21:12 WIB
- Medan
RRI. CO.ID - Medan - Kesuksesan sejati di hadapan Allah SWT adalah saat kita mampu menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama. Hal ini bersumber dari prinsip utama islam bahwa sebaik- baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.
Melalui program acara Mutiara Pagi, edisi Rabu, 10 Juni 2026 dengan judul : Sukses menjadi hamba yang bermanfaat di hadapan Allah SWT Ustadz Ade Putra, M.Pdi mengatakan, sebaik- baiknya manusia adalah bermanfaat bagi orang lain merupakan standard hidup menurut islam. Disebutlan ada tiga bagian agar manusia bermanfaat adalah bermanfaat untuk dirinya sendiri, bermanfaat untuk keluarganya dan bermanfaat untuk masyarakat.
Dalam program Mutiara Pagi ini yang disiarkan oleh Pro1 RRI Medan, dari pukul 05.30 s.d 05.50 WIB turut juga memberi kesempatan kepada pendengar melalui WA 0811616943. Pendengar Aflah di Laudendang bertanya, mengapa kita sering mengabaikan nikmat waktu dan kesempatan, jawab Ade Putra, Nikmat yang diberikan Allah SWT harus kita syukuri.
"Nikmat yang diberikan Allah SWT, maka Nikmat tersebut harus kita syukuri, dengan apa cara mensyukuri Nikmat itu, yang pertama, mengucapkan dengan lisan Alhamdulillah, yang ke dua, dengan cara bersedekah dan kebaikan. Yang ke tiga mensyukuri Nikmat senantiasa taat dan tunduk atas perintah Allah dengan menjauhi dari larangan atau maksiat-maksiat yang dilarang Allah SWT," ujarnya.
Selanjutnya Rina di Marelan, bagaimana Ustadz, setiap hari kita kerja dan pulang begitu terus, merasa hidup saya tidak ada manfaatnya untuk orang lain, salat dikerjakan, kok jadi kosong ya Ustadz. Jawab Ustadz kita niatkan, ikhlas bergantung kepada Allah SWT.
"Cara kita menjalaninya, kita sukses di hadapan Allah, selama niat kita, kita ikatkan kepada Allah, kita sandarkan kepada Allah sebagai bentuk amalan kita, hanya mencari Ridho kepada Allah, seberat apapun yang kita keluarkan untuk manfaat kepada orang lain, maka itu terasa indah, yang pertama tadi, bermanfaat untuk diri sendiri, maka berbuatlah yang baik, semua harus ikhlas tanpa mengharapkan sanjungan kepada orang lain, maka dari itu akan berarti diri kita, harus ada niat yang baik, "kata Ade Putra, S.Pdi.
Selain itu Wati di Tembung kota Medan, setiap hari saya di rumah, masak, menyuci dan mengurus anak, melihat tetangga ikut mengaji dan sedekah, saya jadi minder Ustadz, apakah pekerjaan saya ini ada manfaatnya di mata Allah. Jawab Ustadz, ibu Wati jangan berkecil hati, justru yang ibu Wati lakukan ibadah juga.
"Seorang isteri atau seorang wanita yang salihah, bandingannya seorang wanita salihah adalah 25 laki-laki ssleh, maka ibu Wati jangan berkecil hati, justru ibadah, pahala yang banyak didapatkan oleh seorang isteri. Satu riwayat dikatakan, jika kita mencuci pakaian suami atau anak, maka tetesan airnya yang menetes 10 kebaikan, selama isteri melakukan amal- amal yang baik. Ibadah itu bukan saja hanya salat, puasa dan sedekah, namun juga ibadah lain dikala seorang isteri adalah melayani suami, mengurus keluarga adalah ibadah yang sangat berharga di hadapan Allah SWT, "Ujarnya.
Disisi lain Rosliyah bertanya, saya ingin bersedekah di setiap jum'at, terkadang uang belanja pas-pasan, saya merasa malu di hadapan Allah, karena saya tidak dapat berbagi, apakah saya termasuk hamba yang tidak bermanfaat. Jawab Ustadz, Allah itu tidsk membatasi berapa jumlah yang harus kita sedekahkan.
"Ini cuma perasaan saja, Allah itu tidak membatasi berapa nilai yang kita keluarkan, selama yang kita berikan itu ikhlas walaupun seribu rupiah, itu sama seperti satu juta rupiah, Allah tidak membatasi, se mampunya, se ikhlasnya, maka itu yang di ridhoi, tidak mungkin uang yang kita miliki semisalnya seratus ribu rupiah tidak digunakan untuk kebutuhan belanja dan disedekahkan semuanya, nah ini tidak boleh juga, sementara kebutuhan sehari-hari untuk keluarga diabaikan, maka dosa juga kita," ucap Ade Putra, S.Pdi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....