Bijak Bermedia Sosial Bagi Generasi Muda Sumut

  • 10 Jun 2026 15:57 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Rabu ( 10/6/2026 ) pagi, mengangkat tema di era digital, yaitu "Bijak Bermedia Sosial". Dipandu oleh Indra Widyastuti, diskusi interaktif ini menghadirkan dua narasumber ahli yang membedah fenomena media sosial dari sudut pandang regulasi, literasi, dan psikologi, yaitu Dr. Christiany Juditha, S.Sos., M.A. (Kepala BBPSDMP Kominfo Medan) dan Dr. Lodiana Ayu, M.Psi., (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Potensi Utama Medan).

Sebagai pembuka Christiany menyoroti realitas tingginya penetrasi internet di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara, yang sayangnya belum diimbangi dengan tingkat literasi digital yang mumpuni. Kominfo melalui BBPSDMP Medan terus gencar mengedukasi masyarakat mengenai empat pilar literasi digital: digital skills, digital culture, digital ethics, dan digital safety. Christiany menekankan bahwa jempol pengguna sering kali lebih cepat daripada pikiran, yang memicu tersebarnya hoaks, ujaran kebencian, dan konflik siber. Beliau mengingatkan pentingnya menyaring informasi sebelum membagikannya (saring sebelum sharing) serta memahami konsekuensi hukum yang tertuang dalam UU ITE jika tidak bijak berkomentar di ruang publik.

Dari perspektif psikologis, Lodiana memaparkan bagaimana media sosial secara mendalam memengaruhi kesehatan mental dan perilaku generasi muda. Beliau menjelaskan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), kecanduan gadget, hingga penurunan empati yang sering terjadi akibat interaksi yang termediasi oleh layar. Ruang digital sering kali menjadi tempat pelarian atau pencarian validasi semu (melalui likes dan followers), yang jika tidak dikontrol dapat memicu kecemasan hingga depresi. Lodiana mengajak para pengguna untuk membangun kesadaran diri (self-awareness), menjaga batasan waktu layar (screen time), dan tetap mengutamakan interaksi sosial yang nyata di dunia luring demi menjaga keseimbangan psikologis.

Pada sesi akhir, kedua narasumber sepakat bahwa media sosial sejatinya adalah alat yang netral—bisa menjadi ruang produktif yang menghasilkan prestasi dan ekonomi kreatif, atau justru menjadi bumerang yang merusak masa depan. Kunci utamanya terletak pada kontrol diri dan etika pengguna. Melalui sinergi antara edukasi literasi digital dari pemerintah dan pemahaman psikologis yang sehat, diharapkan masyarakat Sumatera Utara, terutama generasi mudanya, dapat bertransformasi menjadi netizen yang cerdas, kritis, empatik, dan berbudaya di ruang siber.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....