Moderasi Beragama di Era Digital: Menjaga Kemanusiaan dan Persatuan

  • 30 Mei 2026 19:20 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – "Moderasi Beragama di Era Digital" menjadi pembahasan Ustazah Hj Nurjannah M.H.I dalam kajian islami Mutiara Sore pada Sabtu 30 Mei 2026. Ia mengajak pendengar untuk memahami esensi moderasi beragama ketika kita hidup di tengah era informasi yang luas dan sering kali berisik.

Hj. Nurjannah memulai dengan mengingatkan pentingnya menahan diri dari fanatisme dan ego yang sering mengganggu hubungan antar sesama. Meskipun agama seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan Tuhan dan satu sama lain, terkadang hal itu justru disalahgunakan untuk menciptakan sekat-sekat perpecahan.

Ia juga menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti memodifikasi ajaran agama, melainkan moderasi terletak pada cara kita menjalankan ajaran tersebut. Moderasi berarti mengambil jalan tengah – tidak ekstrem ke kanan yang kaku maupun ke kiri yang bebas tanpa aturan. Dia menekankan bahwa moderasi harus mencerminkan keadilan dan keseimbangan, menghormati martabat setiap manusia meskipun terdapat perbedaan keyakinan.

Dalam situasi digital saat ini, Hj. Nurjannah menyoroti tantangan yang muncul, seperti fenomena ruang gemah, di mana algoritma media sosial seringkali hanya menampilkan sudut pandang yang sesuai dengan preferensi pengguna. Hal ini dapat mengikis rasa toleransi karena pengguna jarang terpapar dengan pandangan yang berbeda. Selain itu, hilangnya sosok guru yang seharusnya menjadi panutan dalam belajar agama, serta kecepatan dalam menyebarkan informasi yang kerap kali mengabaikan tabayun, juga menjadi tantangan besar bagi moderasi beragama di era digital.

Hj. Nurjannah menekankan bahwa menjadi moderat bukan berarti lemah dalam iman. Sebaliknya, moderasi menunjukkan kekuatan iman yang mampu menampung perbedaan tanpa merasa terancam. Ia mengajak pendengar untuk melakukan aksi nyata dalam moderasi beragama, mulai dari memuliakan tetangga tanpa sekat, bijak dalam bermedia sosial, dan mencari titik temu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menanamkan nilai-nilai moderasi kepada anak-anak, kita bisa mendidik generasi mendatang untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan. Hj. Nurjannah mengingatkan bahwa siapa yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain adalah yang dicintai Tuhan. Ia menekankan bahwa keberagaman adalah kekayaan dan moderasi adalah penjaminnya.

Di akhir kajian, Hj. Nurjannah mengajak semua untuk menjadi pribadi yang menenangkan dalam tindakan dan ucapan, serta memilih untuk menjadi jembatan penghubung antara hati, bukan dinding pemisah. Dengan demikian, moderasi beragama dapat membawa rahmat bagi seluruh umat manusia dan menjaga persatuan dalam keberagaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....