Hikmah Ibadah Kurban, Wujud Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
- 29 Mei 2026 15:52 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Ibadah kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan pada Hari Raya Iduladha, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan sosial yang mendalam bagi umat Islam. Hal tersebut disampaikan Ustaz Suriadi S.Ag dalam Kajian Mutiara Sore RRI Medan pada Rabu sore, 27 Mei 2026 yang mengangkat tema Hikmah Kurban.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa ibadah kurban sejatinya bukanlah ibadah baru, melainkan telah dilakukan sejak masa para nabi terdahulu. Sejarah kurban juga tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ujian keimanan dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Ustaz Suriadi S.Ag menjelaskan, kisah Nabi Ibrahim menjadi pelajaran berharga tentang ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ibrahim menunjukkan kepatuhan penuh kepada Allah. Namun pada akhirnya, Allah mengganti kurban tersebut dengan seekor kibas atau domba.
| Baca juga: Hikmah Kurban Membentuk Keluarga Bertaqwa |
“Allah hendak mengajarkan kepada manusia bahwa tidaklah layak menjadikan manusia sebagai kurban atau tumbal dengan alasan apa pun,” ujarnya.
Secara bahasa, kurban berasal dari kata qoruba yang berarti dekat atau mendekatkan diri. Sedangkan secara istilah, kurban dimaknai sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan, ketakwaan, dan rasa syukur dengan menyembelih hewan ternak pada Hari Raya Iduladha dan hari tasyrik.
Menurutnya, ibadah kurban tidak hanya memiliki dimensi spiritual berupa hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dimensi sosial melalui semangat berbagi kepada sesama, khususnya kaum fakir dan miskin.
Ia menjelaskan, pembagian daging kurban menjadi bukti nyata nilai kepedulian sosial dalam Islam, terlebih di tengah kondisi harga kebutuhan pangan dan daging yang relatif tinggi sehingga tidak semua masyarakat mampu menikmatinya.
Selain itu, kurban juga dipandang sebagai simbol penyucian diri. Penyembelihan hewan dimaknai secara metaforis sebagai upaya menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia seperti rakus, serakah, egois, dan angkuh.
“Allah tidak menilai darah dan daging hewan yang disembelih, tetapi melihat ketakwaan dan keikhlasan seorang hamba,” katanya.
Kajian tersebut juga menegaskan bahwa berkurban merupakan bentuk syukur atas nikmat Allah sekaligus sarana membersihkan harta. Dalam Islam, sebagian rezeki yang dimiliki diyakini mengandung hak orang lain sehingga dianjurkan untuk ditunaikan melalui zakat, sedekah, infak, maupun kurban.
Melalui pemahaman tersebut, umat Islam diharapkan tidak hanya memaknai kurban sebagai ibadah tahunan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ketakwaan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan membangun keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....