Dampak Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Bagi Pelaku UMKM di Sumut
- 21 Mei 2026 10:03 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Sebagai perwakilan langsung dari sektor riil, Sugiani selaku Ketua Kampung Tahu Binjai saat menjadi narasumber Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Kamis ( 21/5/2026) pagi, memaparkan potret buram yang sedang dihadapi oleh para pengrajin tahu di daerahnya. Ia menjelaskan bahwa komoditas kedelai yang menjadi bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe sebagian besar masih mengandalkan jalur impor, sehingga harganya sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dolar AS. Ketika rupiah terus melemah, biaya modal untuk membeli kedelai otomatis melonjak tajam, menjepit margin keuntungan para produsen yang sudah sangat tipis. Kondisi ini menempatkan para pengrajin pada posisi buah simalakama yang sangat dilematis, jika mereka menaikkan harga jual tahu ke pasaran, mereka terancam kehilangan basis pelanggan setianya yang juga sedang kesulitan ekonomi, namun jika mereka memilih untuk mengecilkan ukuran atau mengubah ketebalan tahu demi menyiasati biaya, masyarakat atau konsumen langsung melayangkan protes karena merasa dirugikan.
Sedangkan Gunawan Benyamin (Ekonom) yang juga menjadi narasumber Dialog Interaktif Aspirasi Sumut saat menanggapi keluhan dari lapangan tersebut, memberikan analisis mendalam mengenai akar penyebab dan proyeksi dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah ini. Dari sudut pandang ekonomi makro, ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang garuda tidak terlepas dari faktor eksternal global, seperti kebijakan suku bunga tinggi yang diambil oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta ketegangan geopolitik dunia yang memicu pelarian modal ke aset yang lebih aman (safe haven). Gunawan mengingatkan bahwa fenomena ini memicu terjadinya imported inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh meroketnya harga barang-barang luar negeri yang harus dibayar dengan dolar yang mahal. Dampak ini tidak hanya memukul industri tahu-tempe melalui komoditas kedelai, tetapi juga berpotensi merembet ke sektor lain seperti peternakan akibat kenaikan harga pakan impor, yang pada akhirnya bisa memicu kenaikan harga daging dan telur di pasar domestik.
Sebagai langkah mitigasi ke depan, Gunawan Benyamin menekankan bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya intervensi yang taktis. Ia mendorong para pelaku usaha untuk terus meningkatkan efisiensi proses produksi dan mencari alternatif bahan baku lokal jika memungkinkan, guna mengurangi ketergantungan terhadap pasar global. Di sisi lain, ia juga menggarisbawahi pentingnya peran aktif pemerintah daerah maupun pusat dalam menjaga rantai pasok dan melakukan intervensi pasar, seperti pemberian subsidi transportasi logistik atau operasi pasar murah. Langkah-langkah strategis ini dinilai sangat krusial untuk menjaga daya beli masyarakat Sumatera Utara yang kian tergerus, sekaligus memastikan agar sektor UMKM seperti Kampung Tahu Binjai tetap mampu bertahan sebagai banteng pertahanan ekonomi lokal di tengah badai depresiasi rupiah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....