Tantangan Buruh Sumatera Utara ditengah Pelemahan Ekonomi Global

  • 30 Apr 2026 11:14 WIB
  •  Medan

Tantangan Buruh Sumatera Utara di Tengah Pelemahan Ekonomi Global

RRI.CO.ID, Medan - Jujur saja, bagi kami di Sumatera Utara, May Day tahun ini bukan merupakan sebuah seremoni yang penuh kegembiraan. Kami melihat kondisi buruh kita sedang dalam keadaan 'darurat'. Badai PHK itu bukan sekadar angka di atas kertas, tapi nyata terjadi di lapangan. Demikian dikatakan Willy Agus Sutomo, S.H (Ketua Partai Buruh Sumatera Utara) mengawali Dialog Aspirasi Sumut di Programa 1 RRI Medan FM 94,3 MHz, Kamis (30/4/2026) pagi.

“ Banyak perusahaan, terutama di kawasan industri dan sektor perkebunan, yang mulai melakukan efisiensi. Masalahnya, efisiensi ini seringkali langsung memotong hak tenaga kerja. Sejak adanya regulasi baru seperti Omnibus Law, posisi tawar buruh semakin lemah, “ jelas Willy.

Lebih lanjut Willy menegaskan bahwa proses PHK menjadi lebih mudah bagi pengusaha, sementara nilai pesangon yang diterima buruh jauh berkurang dibanding aturan sebelumnya. Ini yang membuat potret buruh kita di Sumut sangat memprihatinkan. Kami dari Partai Buruh menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya menjadi penonton. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara harus hadir. Jangan hanya fokus pada investasi, tapi abai pada perlindungan. Kami menuntut adanya pengawasan ketat terhadap perusahaan yang melakukan PHK secara sepihak tanpa memenuhi hak buruh secara penuh. Kami juga meminta pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan upah murah, karena kenaikan harga bahan pokok saat ini sudah tidak sebanding dengan kenaikan upah yang sangat minim.

Diakhir dialog Willy memberikan harapan kepada pemerintah agar bisa mencabut aturan-aturan yang merugikan buruh dan memberikan kepastian kerja. Buruh adalah penggerak ekonomi, jangan jadikan kami tumbal dari setiap krisis yang terjadi.

Sedangkan Gunawan Benyamin ( Dosen Fak. Ekonomi UINSU ) yang juga hadir menjadi narasumber Aspirasi Sumut menyampaikan bahwa apa yang disampaikan Pak Willy itu memang fakta di lapangan. Dari sisi ekonomi, Sumatera Utara sangat bergantung pada sektor komoditas ekspor seperti sawit dan karet. Saat ini, ekonomi global sedang melambat, permintaan dari luar negeri turun, dan harga komoditas menjadi sangat fluktuatif.

“ Ketika pendapatan perusahaan ekspor ini terganggu, mereka pasti akan melakukan pemangkasan biaya operasional. Sayangnya, biaya tenaga kerja sering menjadi variabel yang paling mudah dipangkas. Selain itu, kita juga menghadapi tantangan digitalisasi. Banyak industri yang mulai beralih ke mesin atau sistem otomatis untuk efisiensi jangka panjang, yang berujung pada pengurangan tenaga kerja manusia, “ ungkap Benjamin.

Diakhir dialog Benjamin memberikan keterangan bahwa ekonomi Sumut sangat besar, karena jika buruh kehilangan pendapatan, daya beli masyarakat akan jatuh, dan ini bisa memukul sektor UMKM kita juga. Saya sepakat bahwa jaring pengaman sosial harus diperkuat. Pemerintah perlu memberikan program reskilling atau pelatihan ulang bagi buruh yang terkena PHK agar mereka memiliki keahlian baru yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Selain itu, sinkronisasi antara dunia pendidikan dan pasar kerja di Sumatera Utara harus dibenahi agar angka pengangguran tidak terus membengkak. Stabilitas ekonomi daerah akan terjaga jika kesejahteraan buruh juga terjaga. Kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan serikat buruh adalah kunci utama untuk melewati badai PHK ini.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....