Permasalahan Antrian BBM di Sumatera Utara

  • 09 Mar 2026 13:51 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Kekhawatiran masyarakat terkait BBM yang dikatakan akan habis dalam 20-25 hari sebenarnya bukan merupakan indikasi stok yang akan menipis hingga habis. Angka tersebut hanya sebagai himbauan atau peringatan bagi masyarakat. Untuk kondisi BBM di Sumatra Utara, secara keseluruhan cukup baik. Meskipun sebelumnya terjadi antrian, saat ini sudah mulai kembali normal. Daerah yang masih mengalami antrian antara lain Siantar dan Simalungun. Hal ini disampaikan M. Romi Bahtiar (Section Head Commrel Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut) dalam acara Dialog Aspirasi Sumut di Programa 1 RRI Medan FM 94.3 MHz, Senin ( 9/3/2026 ) pagi.

Lebih lanjut Romi mengatakan bahwa konflik di Timur Tengah memang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan aktivitas perindustrian, yang menjadi salah satu faktor munculnya antrian akibat kekhawatiran masyarakat akan kekurangan pasokan bahan bakar dan pangan. Namun saat ini, belum terjadi masalah dalam distribusi dan stok BBM tetap aman.

“ Sebagai perusahaan nasional, Pertamina telah menyusun strategi untuk memastikan ketersediaan BBM tetap terjaga. Langkah yang dilakukan antara lain mempercepat pemasokan BBM ke SPBU yang membutuhkan dan menyebarkan distribusi ke seluruh wilayah Sumut, yang telah mulai mengurangi antrian dan mengembalikan kondisi ke normal, " ujar Romi.

Sedangkan Padian Adi S Siregar, S.H., M.H (Ketua Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen) yang juga menjadi narasumber Dialog Aspirasi Sumut mengatakan bahwa permasalahan antrian BBM sebagian besar disebabkan oleh lemahnya komunikasi antara pemerintah dengan pihak terkait serta koordinasi antar elemen pemerintah. Selain itu, masyarakat masih memiliki trauma akibat kondisi pasca banjir di masa lalu, dimana antrian BBM juga terjadi. Kondisi saat ini justru bisa dianggap lebih logis dibandingkan saat bencana kemarin.

“ Penyebaran informasi melalui media digital yang sangat cepat juga menjadi faktor munculnya kepanikan masyarakat, terutama jika berita yang beredar tidak disertai dengan klarifikasi yang jelas dan akurat, " ungkap Padian.

Diakhir dialog narasumber memberikan kesimpulan bahwa peristiwa antrian BBM di Sumut yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bagaimana faktor psikologis masyarakat dan komunikasi yang belum optimal dapat memperparah situasi, meskipun kondisi stok secara faktual masih aman. Pihak Pertamina telah mengambil langkah konkret untuk memperbaiki distribusi, namun kolaborasi dengan pemerintah dalam menyampaikan informasi yang jelas dan tepat waktu menjadi kunci untuk mencegah kepanikan di masa mendatang. Trauma masyarakat akibat kejadian masa lalu juga perlu diperhatikan dengan memberikan edukasi dan pemahaman yang lebih baik mengenai sistem pasokan BBM, sehingga informasi yang beredar di ruang digital dapat diantisipasi dengan lebih matang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....